Kisah Para Pejuang dari Kampung Manowa

#Resensi

Judul Buku: Si Anak Badai
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit
Tahun Terbit: Agustus 2019
Jumlah Halaman: 322 halaman

 

Serial Anak-Anak Mamak yang telah terbit beberapa tahun silam berkisah tentang empat bersaudara: Si Anak Kuat, Si Anak Spesial, Si Anak Pintar, dan Si Anak Pemberani. Mereka lahir dari seorang Ibu luar biasa, Si Anak Cahaya. Para pembaca yang mengikuti serial ini tentu sudah begitu hafal akan kisah perjalanan mereka dalam meraih kesuksesan masing-masing dengan jalan yang berbeda. Ini adalah kisah perjuangan anak kampung pedalaman Sumatera menjadi orang-orang sukses. Penuh ketegangan, menguras emosi pembaca, dan juga penuh inspirasi. Nah, bagaimana dengan buku kali ini (Si Anak Badai)? Mungkin para penggemar kisah-kisah sebelumnya akan bertanya-tanya: apakah buku ini merupakan kelanjutan dari serial tersebut?

Tere Liye selalu mampu menghipnotis pembaca ketika mengeksplorasi karya-karyanya. Hal ini pula yang membuat saya pribadi selalu berusaha mengoleksi setiap buku terbaru yang dituliskan. Gaya penulisannya lugas dan sederhana, tetapi bisa menggaet pikiran dan perasaan pembaca. Di lihat dari segi struktur kalimat, Tere liye juga lebih sering menggunakan kalimat sederhana ketimbang kalimat majemuk, sehingga tulisannya yang bergaya simple menjadi cocok untuk dibaca oleh segala usia dan kalangan. Karyanya banyak berkisah tentang keseharian kehidupan masyarakat, namun tetap penuh makna di dalamnya.

Si Anak Badai adalah sebuah buku yang berkisah tentang perjalanan sebuah “geng” anak kampung yang berjuang merebut hak mereka untuk dapat tetap tinggal di kampung mereka sendiri. Kekuasaan pemerintah yang ingin merebut hak tinggal mereka tidak membuat mereka menyerah begitu saja. Perjuangan dahsyat pun mereka alami karena harus berjuang melawan “sang penguasa”. Benar-benar penuh intrik, buku ini menyuguhkan kehidupan masyarakat kampung yang tinggal dalam balutan atmosfir pinggiran sungai, muara, serta deru ombak laut. Awal cerita mengupas kehidupan Ze, seorang siswa SD yang bertumbuh dan merajut asa di sebuah perkampungan bernama Manowa.

Selanjutnya, nilai-nilai kehidupan yang ditampilkan di dalam cerita tidak diragukan lagi kuantitas dan kualitasnya. Pembaca dapat menemukan nilai moral dan pelajaran yang dapat dipetik hikmahnya tersebar di seluruh bagian buku. Salah satu yang menarik bagi saya adalah tentang bagaimana pengorbanan dan kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya. Di ruang tengah, aku tersenyum dengan mata berkaca-kaca, tak tertahankan. Aku menangis. Aku baru tahu betapa sayangnya Mamak kepada kami (hal. 134).

Sebagaimana dalam karya-kayra Tere Liye selama ini, aspek yang tak kalah kentara adalah persahabatan yang tumbuh erat, kali ini di antara empat sekawan. Hal ini khususnya terlihat ketika Malim memutuskan berhenti sekolah. Persahabatan mereka diuji, tetapi kesetiakawanan membuat Malim semangat untuk bersekolah lagi. “Mengapa kalian  masih kemari?” Malim terisak. Kini dia mengelap ingus di hidungnya dengan telapak tangan. “Kami kawan kau, Lim. Kami tidak akan menyerah semudah yang kau kira. (hal. 202).

Ada pun sisi lain dari bahasan buku ini adalah kritikan yang seolah ditujukan kepada pemerintah sekarang. Kekuasaan menjadikan mereka lupa dengan rakyat mereka yang di bawah. Geng Si Anak Badai dengan segenap kemampuannya berusaha menggagalkan rencana pemerintah untuk membuat pelabuhan di kampung mereka agar mereka tidak terusir. Kegigihan dan semangat mereka akhirnya membuahkan hasil. Sang Kapten dibebaskan dari tuduhan dan kampung mereka kembali aman dari rencana penggusuran pemerintah.

Namun demikian, dari sudah pandang saya, ada hal yang sedikit mengganjal dalam cerita. Geng ini terlihat mampu menemukan bukti kecurangan yang dilakukan oleh pihak pemerintah dengan cara yang rasanya cenderung gampang. Mungkin akan lebih baik jika penulis memasukkan alur cerita yang lebih menarik atau menantang dalam misi pencarian bukti kecurangan yang dilakukan pemerintah ini. Akan tetapi, secara keseluruhan, penikmat buku benar-benar harus membaca buku yang satu ini. Sebagaimana disebutkan di atas, di dalam karya ini terkandung begitu banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa dijadikan hikmah bagi pembaca. Intinya, Novel ini sungguh sarat akan makna. Akhir kata, selamat membaca buku “Si Anak Badai”.

Oleh: Ibrahim Mhd. Jamal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *