Perkenalkan, ini zaman kami ! (Bagian I)

ini zaman kami

Oleh:Fakhrurrazi
(Penikmat Geosastra, Sains Filsafat, & Sufisme)

 

Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB dan merupakan hari pertama Syahreza menginjakkan kaki pertama kali di kampus, mengikuti kuliah Jurusan Filsafat di salah satu Universitas Top di daerahnya. Suasana kelas terlihat serius, raut muka mahasiswa baru ada yang terlihat cekang demi mencerna kalimat logika para filusuf yang disampaikan oleh Dosen. Nama-nama popular seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles dengan karya-karya klasik mereka selalu menjadi sumber pustaka bagi yang kuliah di jurusan ini. Sambil mendengarkan materi dari Dosen, Syahreza memperhatikan kalimat di dinding kanan, terpajang sebuah lukisan dengan quote (kalimat) “…cogito ergo sum, artinya aku berfikir maka aku ada..” , kalimat itu dilontarkan oleh Rene Descartes (1596-1650), yaitu salah satu pakar matematika dan filusuf besar Eropa abad pertengahan.Rupanya sang Dosen mengetahui gerak-gerik Syahreza yang menatap dinding penuh kebingungan makna kalimat itu. Tanpa menegur, sang Dosen bercerita singkat tentang Rene Descartes, dan membuat Syahreza mengalihkan pandangan pada Dosen, lalu menyimak dengan seksama. Sang Dosen bercerita bahwa Kalimat itu merupakan fenomenal yang mengubah dunia eropa mengalami kemajuan pesat di bidang filsafat, sains dan teknologi hingga saat ini. Rene Descartes berasal dari kalangan keluarga terpelajar dan terdidik. Ia banyak membaca dan yakin bahwa ilmu pengetahuan yang dipelajarinya akan berguna dalam hidupnya. Keyakinan itu mendorongnya untuk semangat belajar. Para Gurunya termasuk yang paling berdedikasi, dan ilmu-ilmu yang dipelajarinya telah membantu mengembangkan pemikiran dan logikanya.

 

Namun, setelah lulus ia dengan penuh kekecewaan terhadap pendidikan yang diperolehnya. Semakin banyak ia belajar, maka semakin banyak pula timbul keraguan pada dirinya. Sumber kekecewaan itu tidak lain adalah tidak ditemukan kebenaran absolut tentang apa yang dipelajarinya, karena para filusuf masa lampau terlalu mudah memasukkan penalaran yang *bisa-jadi-benar* alias *sama saja belum tentu benar*. Hal ini bertolak belakang sebagaimana penalaran yang pasti. Descartes ingin mencari kebenaran dengan cara meragukan semua hal, sekelilingnya, bahkan dirinya sendiri. Bagi Descartes, mungkin saja apa yang difikirkannya sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran. Mungkin saja pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa manusia kepada kebenaran, tetapi sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Dengan begitu, Descartes menekankan pada prinsip berfikir dan bertindak rasional, yang merupakan kontrol paling besar dalam diri manusia untuk mencapai kebenaran. Bila tidak, alias menggunakan prinsip emosional justru mengarahkan kepada kesesatan, karena prinsip ini adalah prinsip hawa nafsu setan.

Hampir 80 menit sang Dosen menyampaikan materi dan penjelasan matakuliah pengantar Filsafat tersebut. Masih ada 10 menit waktu tersisa untuk mengakhiri tatap muka ke-satu ini. Lalu dosen memberikan nasehat, bahwa selaku mahasiswa yang dididik dalam dunia Filsafat, haruslah selalu berfikiran terbuka, memperbanyak bahan bacaan, diskusi, mengikuti perkembangan zaman, menulis, hingga saling menghargai perbedaan alias toleransi, sehingga tercapailah kebijaksanaan seorang Filusuf atau Pemikir. Ketika seseorang sudah mencapai titik luasnya pengetahuan, lalu dilandasi moral agama yang dianut, maka tidak alergi lagi dengan perbedaan pada setiap manusia terutama pada unsur SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan). Pada hakikatnya, ajaran-ajaran filsafat menekankan prinsip perbedaan, yang merupakan anugerah dari Sang Pencipta. Ketika manusia diturunkan ke bumi, manusia itu melakukan pengembaraan di dunia, maka selama pengembaraan itu manusia berusaha mencari jalan kebenaran, yakni kebenaran berfikir dan bertindak di dunia ini. Oleh karena itu, manusia mesti dilandasi oleh moral atau batasan agama, karena landasan itulah mengantarkan pada jalan kebenaran menuju Tuhannya.

 

Tak lupa juga sang Dosen juga mengutip Hadits dari kalangan Syiah yang diriwayatkan oleh Imam Shadiq yang artinya  : *Barang siapa mengerti tentang zamannya, takkan dikejutkan oleh serbuan segala yang membingungkan*. Lanjut sang Dosen, bahwa hadits ini mesti disadari oleh kalangan muda, tak mesti bagi seorang filusuf. Penjelasan tafsir hadits ini oleh Murtadha Muttahari (1919 – 1979), yaitu seorang Filusuf Modern Islam beraliran Syiah Iran bahwa setiap manusia yang mengenal zamannya, lalu menguasai pengetahuan tentang seluk-beluknya, takkan heran dan kaget, apalagi bingung tentang perubahan-perubahan serta prilaku manusia yang hidup se-zamannya. Manusia tersebut tidak kehilangan akal pikirannya, sehingga selalu berusaha memecahkan problem-problem yang muncul di hadapannya. Bagi manusia yang tak kenal zamannya, diibaratkan seperti sedang tertidur dan membuatnya lalai akan segalanya, lalu tiba-tiba mendapati dirinya bingung menghadapi persoalan di depannya, sehingga tidak menemukan solusi yang tepat. Demikian penjelasan Muttahari kepada generasi muda, supaya selalu sadar apa yang sebenarnya sudah dan sedang terjadi, maupun prediksi kejadian di masa depan.

 

Baca Juga: Gus Dur, Sang Tokoh Bhinneka

 

Lanjut dosen sebelum penutup : “ sebagai contoh, dunia yang sedang kita hadapi ini, dikenal dengan Era 4.0, secara singkat berarti dunia otomasi dengan teknologi digital. Tren dunia era ini telah mengubah banyak bidang kehidupan manusia, termasuk ekonomi, dunia kerja, bahkan gaya hidup dan prilaku manusia itu sendiri.  Dengan perkembangan sains dan teknologi berabad-abad, kini bahkan membawa manusia banyak kehilangan akal sehat untuk berfikir dan bertindak rasional, mudah terpengaruh alias lebih cenderung pada hawa nafsu. Sebagai contoh Demi mempertahankan eksistensi ekonomi, negara adidaya di dunai ini rela melakukan perang dagang dengan negara-negara lain, bahkan bila perlu melakukan konfrontasi militer terhadap negara yang melawannya. Kita bisa menyaksikan prilaku radikal yang menyebar begitu cepat melalui internet, sehingga mempengaruhi pikiran generasi muda suatu negara sehingga bertindak anarkis, sehingga merugikan dirinya sendiri, keluarga, bahkan masyarakatnya. Begitulan betapa diperlukan kontrol pikiran yang sehat dan dilandasi moral agama bagi generasi sekarang. Begitulah kira-kira penjelasan Sang Dosen menutup materi kali ini.

 

Jam pun berdering, menandakan pukul 11.45 WIB, para mahasiswa pun terlihat bergembira, ada yang menghela nafas lega, bahkan dengan merenggangkan otot-otot tangan, badan, dan kepala. Mungkin ada yang paham atau tidak, apa yang disampaikan oleh Sang Dosen dengan istilah Bahasa tinggi penuh tafsir yang tidak pernah mereka dengar ketika belajar di waktu Sekolah. Namun bagi Syahreza, hanya terngiang kalimat Rene Descartes dan Murtada Muttahari. Baginya, perlu selalu menggunakan akal untuk selalu berfikir dan bertindak, demi selalu terjaga  menghadapi persoalan zamannya, bahwa ia mesti rajin belajar dan selalu membuka diri, mengolah informasi yang ia dapat dari kehidupan ini, lalu menentukan apa saja yang mesti ia lakukan sebagai seorang manusia, menjadi seorang yang bijaksana dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi. Tak lupa, ia buka tasnya, lalu mengambil buku catatan harian yang sudah disiapkan, menuliskan apa-apa saja yang keluar dari pikirannya dengan balpoin Pilot yang ia beli sekitar pukul 09.00 WIB di Kantin Fotocopy Fakultas. “…Hai bro, yok kita ke kantin…” sahut kawan kelas Shahreza, bernama Hari, persis sama ujung nama MuttaHARI.

Baca: Bagian Kedua

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *