Perkenalkan, ini zaman kami ! (Bagian II)

Oleh : Fakhrurrazi
(Penikmat Geosastra, Sains Filsafat, & Sufisme)

 

“…Bang, ..Teh manis dingin satu ya…” sahut Hari pada Bang Kas selaku pelayan kantin Fakultas, kebetulan melintas di depan meja Hari dan Syahreza. Bg Kas pun berhenti, lalu menanyakan menu minuman pada Syahreza. “..mau pesan apa dik..?” tanya Bang Kas. “…Teh manis dingin juga Bang..” jawab Syahreza. Tak lama kemudian, pesanan mereka pun tiba, dan ditambah dua (2) piring yang masing-masing empat (4) potong kue. Hingar-bingar suara penghuni kantin terasa seperti riak air terjun dari ketinggian. Ada yang lalu-lalang, ke meja kasir untuk membayar makanan dan minuman. Ada pula yang menuju rak kaca, lalu mengambil piring kecil kosong, memilih kue-kue kesukaan. Ada pula ke meja penjual rokok , lalu membeli : sebatang, setengah bungkus, atau sebungkus. Di kantin ini ada 2 kasir, bagian menu makanan-minuman, satu lagi bagian rokok. Tertulis di rak kaca rokok ini “..Say No to Hutang… ” , maknanya siapa saja beli rokok, mesti langsung bayar di tempat. Lain halnya dengan kasir makanan-minuman, boleh membayar paling telat ketika mau meninggalkan kantin.

 

============================================
Baca Juga : Perkenalkan, ini zaman kami ! (Bagian I)

============================================

Di meja tengah kantin, terlihat kelompok mahasiswa sedang sibuk mengerjakan tugas. Tak cukup 1 meja, mereka pun menggeser meja kosong di samping kanan dan kiri untuk didempetkan. Mereka berjumlah 10 anggota, terdiri 5 laki-laki, dan sisanya perempuan. Sepertinya mereka mahasiswa semester 3, sepertinya se-Fakultas dengan Syahreza. Hanya saja setahun lebih senior darinya. Tipe-tipe anggota kelompok ini pun beragam, ada yang terlihat serius, pendiam, aktif bicara, bergurau, bahkan ada tak tahu menahu alias lalai dengan games di gadget. Begitulah kira-kira gambaran mahasiswa dalam 1 kelompok tugas kuliah.

 

Di meja paling sudut, kira-kira arah matahari terbit dari meja Hari dan Syahreza, sekelompok mahasiswa penampilannya kurang rapi, tak bisa juga kita cap kumuh atau dekil. Mungkin penampilannya dan gaya hidup alias style sudah seperti itu. Terdengar suara-suara kritis dan gelak tawa penuh sindiran membumbui diskusi mereka. “…. Pengusaha dan Penguasa itu tabiatnya hampir sama, hanya beda letak S & H…”. celetuk si rambut gondrog, diiringi tawa kawan-kawannya. “…Sering kita liat kadang seorang Pengusaha terpilih jadi Penguasa, atau seorang Penguasa alias Pejabat juga ingin menjadi pengusaha, yakni bermain proyek….”, lanjutnya . Kemudian dibalas serius oleh kawannya, yang berkecamata, “…Aku setuju bro, para elit kita sibuk dengan kepentingannya sendiri dan kelompoknya. Mereka tak peduli rakyat jelata, yang penting untung berlipat ganda. Liatlah berita dan video medsos hari ini, tenaga kerja asing alias TKA dengan mudah dapat pekerjaan di negeri kita, ini pasti gara-gara si Anu, Presiden kita sekarang, ahli pencitraan. Padahal antek asing dan aseng, hanya jadi cukong, rezim komunis, anti-islam, anti-ulama, dekat sama kafir…”, jelasnya dengan menggebu-gebu, seperti ada bara api dalam genggamannya. Keliatannya, corak berfikir mahasiswa kacamata ini mengarah pada ajaran-ajaran ekstrem, mungkin saja ia adalah korban dari kemajuan media sosial, gampang terpengaruh oleh berita bohong alias hoax. “…Kalian tau definisi koruptor itu ? . tanya seorang anggota diskusi itu, bernampilan kribo. Pertanyaan ini ia dengar dari salah satu pelawak stand-up comedy ternama di Negeri ini. “….koruptor itu adalah orang yang melakukan korupsi…”. Jawab si kecamata. “..Belum tepat..!. Koruptor itu adalah orang yang ke-tangkap korupsi. Kalau belum ke-tangkap, namanya masih Pejabat…” begitu jawab si kribo, gelak tawa pun pecah. “…Betul juga itu bro, kita tak bisa menuduh si Fulan dan si Anu koruptor, karena belum ke-tangkap Polisi, lalu tersiar di media…” tambahan si Gondrong dengan bijaksana. Begitulah di meja itu, terlihat idealis sebagai mahasiswa dalam perang argumen soal politik dan ekonomi antah-berantah di negeri ini.

 

Sedangkan di meja Hari dan Syahreza, hanya diskusi ringan. Itu dimaklumi, sebagai mahasiswa baru, yang dipikirkan tentu membahas soal tujuan setelah lulus kuliah, rencana menjadi apa, dan bekerja di bidang apa. Pertanyaan fundamental yang sering muncul pasti berkaitan : Alasan kenapa memilih jurusan ini, apakah karena keinginan sendiri atau orang tua, mungkin saja karena melihat kesuksesan si Anu dan si Fulan, atau alasan lain sebagainya. “…Bro, kamu jadi apa nanti kalau sudah jadi sarjana Filsafat…?” Hari melontarkan pertanyaan. “…Aku ingin menjadi manusia seutuhnya…” jawab Syahreza layaknya kata-kata seorang filusuf. Kalimat itu pun membuat mereka tertawa bersama.

 

Suara Azan pun terdengar, saling sahut-sahutan antar Musholla Fakultas di Kampus itu. Mereka siap-siap meninggalkan kantin, untuk menunaikan perintah Tuhan. Bagi seorang pemikir, mengenal dan dekat dengan Tuhan tak cukup pakai akal, sekalipun dengan sains dan teknologi. Tuhan adalah sesuatu yang Maha Wujud, Dzat yang dirindukan oleh manusia karena Tuhan memiliki kekuatan tak terbatas menurut definisi Nietzsche (1844-1900). Tentang Tuhan, hanya bisa dipahami dalam wilayah moral menurut Immanuel Kant (1724-1804), Jika Tuhan tidak ada, maka segalanya menjadi tidak mungkin menurut Dostoevsky (1821- 1881). Tuhan menurut filsafat bermakna bahwa Tuhan menurut jalan fikiran manusia, sedangkan Tuhan menurut Tuhan bermakna bahwa Tuhan sendiri Yang Berbicara dan Tahu Tentang diriNya. Tuhan itu Allah, Maha Esa, tidak ada Tuhan selainNya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwa sesungguhnya Aku itu dekat. Aku menjawab doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaknya mereka menjawab seruanku dan hendaknya mereka beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk.” sebagaimana Surat Al-Baqarah: 186.

 

“…Bang, berapa semuanya ? … “ tanya Syahreza pada kasir. “….Rp 13.000 dik..” jawab Kasir. Kali ini Syahreza mentraktir si Hari, menyodorkan selembar uang Rp. 20.000, lalu kasir mengembalikan selembar Rp. 5.000 beserta selembar Rp 2.000. “…Terimakasih bro, lain kali aku yang traktir kamu…” pungkas si Hari. Mereka pun mempercepat langkah menuju Musholla, kira-kira 50 meter dari kantin supaya tidak masbuq.

Bersambung…

1 thought on “Perkenalkan, ini zaman kami ! (Bagian II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *