Unsyiah dan Pendidikan Aceh: Bayi Kembar, Teruslah Bergandengan.

Posted on: September 18, 2018, by :

“Unsyiah dan Pendidikan Aceh disebut sebagai “Bayi Kembar Dua” karena 2 September 1959 ditetapkan sebagai tanggal lahir Unsyiah yang sekaligus ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Provinsi Aceh. Walaupun secara resmi Unsyiah dibuka pada tanggal 21 Juni 1961 (Surat keputusan Menteri PTIP Nomor 11 Tahun 1961)”

Universitas Syiah Kuala yang kembali dinahkoadai oleh Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal M.Eng sebagai Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) periode 2018-2022 terus menunjukan eksistensinya sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi negeri yang berkualitas baik di tingkat nasional maupun internasional. Agustus lalu, Webometrics yang merupakan sebuah kelompok riset milik Consejo Superior de Investigaciones Científicas (CSIC), badan penelitian publik terbesar di Spanyol kembali mengumumkan daftar peringkat Universitas berdasarkan empat kategori utama, yaitu “Presence” terkait jumlah laman dengan domain sebuah universitas yang terekam search engine, “Impact” terkait dengan eksternal link yang tertaut di Google, “Openness”, yang berhubungan dengan dokumen terkait yang siap unduh, serta “Exellence” yang merupakan jumlah publikasi ilmiah sivitas di Google Scholar. Univerisitas Syiah kuala – selanjutnya disingkat  Unsyiah menempati rangking  9 Nasional tahun 2018, setelah pada awal januari tahun ini Unsyiah sempat menempati peringkat 4 terbaik. Pada bulan yang sama Unsyiah berhasil menjadi juara pertama lomba Debat Konstitusi MPR Tahun 2018. Dalam final yang diselenggarakan di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu, 29 Agustus 2018, Unsyiah berhasil mengungguli Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Kemudian di bulan yang masih sama pula, Rektor Unsyiah meraih penghargaan Academic Leader Award 2018 dari Direktrorar Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Kemenristekdikti. Samsul Rizal menyabet penghargaan karena berhasil menerapkan konsep pengembangan mutu terstruktur dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan akreditasi institusi dari C menjadi A dan telah membawa berbagai kebijakan baru di bidang kebijakan akademik, dengan menerapkan pendidikan percepatan doktor melalui penggunaan dana sendiri, ditambah dengan berhasil menggerakkan SDM untuk meningkatkan jumlah publikasi internasional dari 964 artikel menjadi 4810 artikel.

 

Tiga penghargaan yang masih sangat fresh tersebut seakan menunjukkan bahwa Unsyiah merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia saat ini. Dimana tiga penghargaan tersebut diraih oleh 3 elemen yang berbeda, perguruan tinggi, mahasiswa dan rektor, yang seakan menasbihkan bahwa Unsyiah memiliki komponen yang sempurna untuk sebuah perguruan tinggi negeri. Melihat perkembangan Unsyiah dalam 5 tahun terakhir memang sangat membanggakan sebagai seorang alumni namun, disisi lain saya melihat adanya sebuah harapan yang lebih besar dimana harapan ini seharusnya bisa berjalan beriringan dengan prestasinya Unsyiah saat ini. Harapan tersebut adalah Pendidikan Aceh, perkembangan Pendidikan Aceh yang sampai saat ini masih belum bisa diharapkan. Padahal semua masyarakat Aceh paham bahwa Unsyiah merupakan jantung Pendidikan Aceh, dimana seharusnya ketika fungsi jantung sudah baik, maka dampak baik akan dirasakan oleh perkembangan tubuh namun, hal itu belum bisa kita rasakan secara maksimal karena mungkin ada bagian tubuh lain yang masih sakit sehingga perkembangan tubuh secara sehat belum bisa kita rasakan.

 

Pendidikan Aceh hingga saat ini memang belum membanggakan masyarakat Aceh sebagaimana yang Unsyiah lakukan kepada masyarakat Aceh khususnya civitas akademika dan alumni Unsyiah itu tersendiri ketika Unsyiah bergerak terbang dari akreditasi C ke kasta tertinggi, yakni akreditasi A. Walaupun begitu kalau kita lihat perkembangan Pendiidkan Aceh dalam 3 tahun terakhir memang ada perubahan, dimana pada tahun 2018 Aceh berada di peringkat 15 dari 34 provinsi di Indonesia setelah sebelumnya pada 2017, Aceh peringkat 23 dan pada 2016 di urutan 32 nasional.

Semakin kesini, tantangan pendidikan Aceh menjadi semakin berat, diamana perubahan waktu tidak saja mengubah pola pendidikan, namun melahirkan generasi yang berbeda jauh dengan generasi sebelumnya. Generasi yang harus bergerak cepat mengikut perkembangan dan tantangan zaman yang populer dengan sebutan  generasi milenial

Saat dimana kita sering mendengar dan membaca pencapaian guru-guru di daerah lain yang cerdas, kreatif, terus berkarya dan mendedikasikan pengabdian kepada profesinya sebagai pendidik. Akan tetapi, di tengah pencapaian demi pencapaian itu, Aceh  masih mendengar pula kisah miris tentang kondisi pendidikan di sebagian pelosok, tentang sebagian guru yang belum optimal melaksanakan tugas atau fasilitas pendidikan yang belum merata. Belum lagi sejumlah guru kita belum terbiasa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dalam pelaksanaan tugasnya di kelas. Meski Dinas Pendidikan Aceh setiap tahun melaksanakan pelatihan dan bimbingan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bagi guru, namun hal itu belum mampu menuntaskan permasalahan.

Jangan terlalu jauh melihat permasalahan yang masih menjadi tugas kita bersama, kita sadar bahwa di tengah derasnya pengaruh teknologi yang sekarang sudah berada pada tahap generasi keempat, dunia pendidikan formal kita di daerah masih dihadapkan pada persoalan-persoalan mendasar. Misalnya, rendahnya minat belajar siswa atau kepedulian masyarakat yang tidak signifikan dengan semangat menciptakan ouput berdaya saing tinggi. Plus, sebagian tenaga pendidik kita yang belum melek IT dan tidak memiliki the fighting spirit untuk maju, menjadi tantangan pendidikan pada era ini. Fenomena ini menjadi suatu hal yang kontradiktif.

Sebuah perhatian besar yang harus kita berikan kepada fenomena-fenomena mendasar yang masih dirasakan oleh masyarakat Aceh. Sebuah perhatian yang harus kita cermati kenapa perkembangan dan pertumbuhan Pendidikan Aceh tidak sejalan dengan prestasi yang ditunjukan oleh Unsyiah, padahal kalau kita lihat sejarah esensi lahirnya Unsyiah tidak terlepas dari semangatnya masyarakat Aceh untuk merajut masa depan Aceh menjadi lebih baik yang pada saat itu kita sedang carut-marut akibat konflik social dan perang berkepanjangan. Apalagi kita tau bahwa lahirnya Unsyiah bersamaan dengan penetapan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh, yakni pada tanggal 2 September 1959. Seharusnya Pendidikan Aceh bisa tumbuh dan berkembang layaknya pertumbuhan dan perkembangan yang ditunjukan oleh Unsyiah saat ini. Kenapa harus seperti itu?, Saya akan sedikit mengulang kaji terkait sejarah dan perannya Unsyiah dengan Pendidikan Aceh yang seharus mampu terbang bersamaan.

 

 

Mengingat kembali semangat kelahiran Unsyiah

Diantara faktor penting yang mendorong lahirnya Unsyiah adalah kesadaran masyarakat Aceh bahwa pendiidikan sebagai kunci utama untuk kembali mengangkat harkat dan martabat rakyat, dimana kita tau sejarah pada tahun 1950-an dimana saat itu rakyat Aceh masih dalam hiruk-pikuk dan riuh rendam dalam ritme perperangan. Walau sebenarnya Indonesia sudah merdeka 5 tahun sebelumnya namun, Aceh terus dilanda perang, mulai dari Perang Cumbok, Perang Medan Area melawan belanda hingga muncul gerakan DI/TII sampai dengan tahun1962. Keadaan kelam pada saat itu membuat ketentraman dan kedamaian rakyat Aceh pada saat itu seperti barang langka, hak-hak dasar rakyat tidak terpenuhi, ekonomi terpuruk sehingga Aceh terperangkap dalam lingkaran api kemiskinan. Tetap saja rakyat Aceh tidak pantang menyerah, kehidupan yang pahit mendorong generasi muda untuk menuntut ilmu dan meraih Pendidikan yang tinggi walaupun harus hijrah ke pulau Sumatera Utara bahkan hingga ke Pulau Jawa.

Atas dasar semua itu, ketika Pemerintah Pusat memberikan status Aceh sebagai Daerah Istimewa dalam bidang agama, Pendidikan, dan adat istiadat segera dijadikan peluang untuk membangun Pendidikan yang layak bagi masyarakat Aceh, yang pada akhirnya kehendak mulia dan idaman untuk mendirikan Unsyiah dapat diwujudkan.

Selanjutnya semangat kelahiran Unsyiah sebagai sebuah Lembaga Pendidikan dikemukan oleh mantan rector Unsyiah periode 1973-1983, yaitu Prof. Dr. Ibrahim Hasan MBA. Beliau mengatakan bahwa Unsyiah dibagun dan dibina atas prinsip damai, sejahtera, dan aman (peace, welfare, and security) dimana dalam konteks ini Pendidikan tidak hanya sebagai wahana tempat berlangsungnya proses ‘memberi’ dan ‘menerima’ ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga harus menjadi proses pembudayaan manusia melalui penanaman nilai-nila kebenaran dan kebaikan kolektif dalam diri peserta didik.

 

 

Bayi Kembar dan Perannya

Pendidikan Aceh dan Unsyiah disebut sebagai bayi kembar dua karena pada tanggal 2 september 1959 resmi ditetapkan sebagai tanggal lahir Unsyiah dan sekaligus sebagai Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Provinsi Aceh. Sejak berdirinya, Unsyiah terus memperkuat eksistensinya menjadi perguruan tinggi yang mampu berkontribusi secara signfikan bagi pembangunan daerah, terutama dalam menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berpendidikan sarjana dalam berbagai bidang. Harus diakui bahwa kontribusi Unsyiah terhadap perkembangan daerah sampai saat ini sangat signifikan. Unsyiah tidak hanya menghasilkan SMD yang handal namun, juga menjadi sumber inspirasi pembangunan daerah, dimana banyak program  pembangunan dilaksanakan berdasarkan konsep-konsep cerdas dan strategis  hasil dari pemikiran akademisi Unsyiah.

Diantara kontribusi besar dan nyata Unsyiah terhadap daerah adalah keterlibatan akademisi Unsyiah secara intensif dalam memutar roda pembangunan di Aceh, baik secara perencanaan maupun pelaksana teknis. Sulit kita banyangkan bagaimana kondisi SDM Aceh hari ini tanpa lahirnya Unsyiah, karena adanya Unsyiah  telah menjadi salah satu instrument penting dalam konsep pembangunan Unsyiah yang kemudian diapliksikan untuk meningkatkan kesejahteraan Aceh. Pendidikan Aceh terus didukung oleh lulusan Unsyiah yang menjadi tenaga pengajar di sekolah mulai dari tingkat TK sampai dengan tingkat perguruan tinggi negeri dan swasta yang ada di Aceh. Lulusan Unsyiah telah menyebar luas untuk membantu pertumbuhan Pendidikan Aceh.

 

 

Masalah Pendidikan Aceh

Melihat kondisi Pendidikan Aceh saat ini memang ada kemajuan dari beberapa tahun silam. Namun, keadaan sekarang belum membuat kita bangga, Aceh masih tertatih dalam hal Pendidikan jika dibandingkan dengan provinsi di Indonesia, Aceh hanya menempati urutan ke 15 tahun ini, bahkan tahun sebelumnya Aceh berada hampir di ujung tanduk, yaitu posisi ke-32 dari 34 Provinsi. Permasalahan Pendidikan Aceh yang paling utama saat ini adalah belum meratanya kualitas Pendidikan, khususnya daerah-daerah pinggiran Aceh, ditambah lagi semangat belajar sampai perguruan tinggi masih rendah karena disebabkan oleh susahnya mencari pekerjaan dan faktor ekonomi keluarga yang tidak mendukung, apalagi dorongan dari orang tua dan lingkungan juga masih kurang.

Ditambah lagi perubahan kurikulum yang terlampau sering membuat tenaga guru tidak mudah untuk menguasai khususnya guru yang berusia lanjut. Dengan kemajuan teknologi saat ini, membuat guru harus bekerja keras untuk mengikuti perkembagan supaya metode pembelajaran juga sesuai dengan kondisi peserta didik saat ini. Minimnya jumlah guru dengan kualitas bagus di daerah-daerah ujung Aceh membuat kualitas murid dan Pendidikan juga sulit berkembang sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan.

Disisi lain, saya melihat Pendidikan di Aceh semakin mengabaikan pembangunan karakter peserta didik, dimana kita melihat Pendidikan kita saat ini lebih cenderung mengutamakan pengembangan intelektual, padahal aspek mental, hati, akhlak sangat diperlukan. Dan aspek intelektual yang dibangun juga tidak sempurna, dimana hanya fokus pada pengembangan hard skill, dan mengabaikan keterampilan hidup, soft skill, semangat jadi pengusaha tidak dibangun sehingga membuat lulusan hanya fokus mencari kerja pada sektor pemerintahan.

Disisi lain kita juga bisa melihat bahwa Pendidikan di Aceh hingga saat ini tidak memiliki target yang jelas, tidak memiliki cetak biru (blueprint) pendidikan sehingga berjalan apa adanya tanpa sebuah tujuan yang konkrit dan jelas. Kita semua menginginkan Aceh yang maju dengan didorongnya oleh sektor Pendidikan akan tetapi, hal itu seperti “Cet langet” karena tidak ada perencanaan yang jelas.

Padahal Aceh memiliki alokasi dana yang cukup, dimana tahun 2017 kita memiliki dana untuk Pendidikan sekitar 2 triliun lebih. Pengunaan dana yang sampai saat ini masih memfokuskan pada pembangunan fisik, masih dangkal sentuhannya untuk pembangunan SDM, belum lagi masih ada penyalahgunaan anggaran Pendidikan oleh para pengambil kebijakan.

 

 

Unsyiah Harus Terus Menggandeng Pendidikan Aceh

Melihat Pendidikan Aceh yang masig tertatih dalam berjalan, tentu Unsyiah menjadi sandaran pertama tempat kita berharap untuk mampu mendorong lebih kuat perkembangan dan pertumbungan Pendidikan Aceh. Layaknya kembaran yang harus saling membantu dalam menjalani proses kehidupan, begitulah seharusnya Unsyiah dengan Pendidikan Aceh harus bisa saling bergandengan tangan dalam mewujudkan wajah Pendidikan di daerah Aceh menjadi lebih kedepannya, memiliki daya saing dan eksistensi lebih luas.

Saat ini, tantangan Pendidikan Aceh menjadi lebih kuat dimana pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi membuat Pendidikan Aceh harus mampu beradaptasi,berimprovisasi, berkreasi dan berinovasi sesuai dengan perubahan zaman agar daya saing tetap terjaga.

Melihat perkembangan Unsyiah hingga saat ini adalah sebuah capaian yang luar biasa, dimana Unsyiah mampu berjalan dan tumbuh sesuai dengan tuntutan zaman, Unsyiah mampu menjaga daya saing di era globalisasi ini. Hal ini belum terlihat pada Pendidikan Aceh, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya tidak sebaik yang dicapai oleh Unsyiah.

Kemudian kita sadar bahwa kita sudah sampai pada tahap ke empat yang dikenal dengan sebutan era revolusi industri 4.0. Dalam era ini, terdapat ciri khusus seperti perkembangan yang sangat pesat di bidang teknologi informasi, otomasi sistem, ekonomi digital, dan lainnya. Pada tataran implementatif produk seperti supercomputer, robot, artificial intelligence, dan modifikasi genetik mengakibatkan pergeseran karakteristik tenaga kerja, yang tidak lagi bergantung pada tenaga manusia semata, tapi pada orientasi mekanisasi. Era tersebut akan membawa perubahan pada  standar dan tata kelola kehidupan, sehingga perlu diikuti dengan penyesuaian perilaku masyarakat agar selaras dengan perkembangan. Kita semua harus sadar bahwa perubahan tidak pernah dapat dihentikan apalagi lari dari perubahan zaman, namun, kita sebagai masyarakat, khusus para pendidik dan peserta didik harus mempersiapkan diri agar memiliki kesiapan dalam menghadapi dan menyikapi perubahan dengan bijak. Mampukah Pendidikan Aceh beradaptasi?

Kita harus optimis, untuk meningkatkan Pendidikan Aceh yang berkualitas dan berdaya saing diperlukan komitmen, tanggung jawab, kerja keras, dan semangat pengabdian dari semua elemen masyarakat karena tugas mendidik tidak tepat kalau hanya dibebankan pada guru, melainkan semua elemen harus mengambil peran masing-masing sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat. Aceh itu pernah jaya pada masa silam bahkan bukan hanya di Indonesia melainkan di kancah asia dan intenasional. Hal ini harus kita jadikan motivasi untuk terus bangkit, kita perlu mengambil kembali nilai-nilai kearifan pada masa lalu untuk kemudian kita jadikan sumber inspirasi dan semangat dalam bekerja untuk mewujudkan Pendidikan Aceh yang lebih baik setiap tahunnya.

Selain itu, kita sangat berharap Unsyiah bisa menjadi mesin pendorong utama dalam meneruskan perjuangan ini. Unsyiah harus bisa melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas namun, juga peduli dengan Pendidikan Aceh kedepannya. Lulusan yang mau kembali mengabdi menjadi pendidik generasi muda Aceh, mengisi posisi strategis di kepemerintahan Aceh, melahirkan inovasi baru dari Aceh dan mampu membuat kebijakan dan terobosan keren untuk kemajuan Pendidikan Aceh. Kita tetap yakin, Unsyiah juga mampu menjadi tempat solutif bagi masyarakat, dimana Unsyiah bisa memberikan pencerahan dan jalan bagi suatu masalah dan persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Semua rakyat Aceh berharap dengan prestasi yang sudah diraih Unsyiah hingga saat ini, mampu dipertahankan dan ditingkat lagi tidak hanya untuk perkembangan Unsyiah sendiri melainkan untuk mendorong kualitas Pendidikan Aceh menjadi lebih baik. Dengan perkembangan Unsyiah saat ini, memiliki 12 Fakultas dengan daya tamping mencapai 6.000 mahasiswa setiap tahunnya, membuat kita optimis terhadap masa depan generasi muda. Unsyiah juga memiliki sarana dan prasarana yang memadai, baik dari segi Gedung kuliah, laboratorium, biro kemahasiswaan, Gedung pusat kegiatan mahasiswa (gelanggang mahasiswa) dan lain sebagainya.

Hal yang masih perlu dipertajam lagi adalah bagaimana meningkatkan perannya dalam tranformasi ilmu teoritis menjadi aplikatif dan pengabdian masyarakat agar Unsyiah mampu menjawab kebutuhan masyarakat Aceh terutama dalam sektor Pendidikan. Kita percaya Unsyiah mampu menjadi stiker andalan dalam memenangkan Pendidikan Aceh, tentunya dengan tetap menjaga nilai-nilai kekeluargaan antara seluruh civitas akademika dan keluarga besar Unsyiah, demi mewujudkan satu kesatuan yang utuh. Semangat gotong royong, semnagat heroism, keikhlasan, ketulusan yang pernah dicontohkan oleh para perintis dan pendiri kampus ini perlu kita gelorakan kembali di era milenial ini supaya Unsyiah yang kita kenal sebagai Jantung Hati rakyat Aceh mampu mendorong, mewujudkan dan meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Aceh khususnya dalam hal Pendidikan.

 

 

Penutup

Layaknya hubungan saudara kembar, Unsyiah tidak boleh membiarkan Pendidikan Aceh berjalan sendiri dalam mewujudkan cita-cita masyarakat Aceh menjadi provinsi yang memiliki pemerataan pendidikan yang baik, kualitas pendidikan yang berdaya saing global dan lulusan yang mampu menjawab tantangan zaman yang sudah memasuki era revolusi industri 4.0. Peran Unsyiah terhadap Pendidikan Aceh hingga saat ini memang cukup besar, dan harapannya bisa memberi dampak yang lebih besar kedepannya. Hal ini tentunya juga memerlukan dukungan dari seluruh elemen masyarakat mulai dari keluarga, komunitas, organisasi, lembaga swasta, dan semua masyarakat Aceh.

Selamat Ulang Tahun Ke-57 Unsyiah, semoga terus berkembang menjadi terdepan, kebanggan masyarakat Aceh dan teruslah menggandeng (saling membantu) Pendidikan Aceh, karena dengan gandenganmu dan dukungan semua elemen yang ada di Provinsi Aceh, maka kalian yang disebut sebagai Bayi Kembar Dua ini akan tumbuh sehat bersama kedepannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *