Golput Bukan Sebuah Solusi !

Posted on: November 27, 2017, by :
golput

Kenapa Anda Pilih Golput?

Sebagai seorang pemuda yang tentunya sangat peduli dengan keadaan bangsa dan daerah yang saya tempati saat ini, saya mengajak semua warga Aceh untuk memiliki rasa yang sama khususnya bagi pemuda yang merupakan calon generasi masa depan.
Kita selaku warga Aceh tentunya sudah merasakan bagaimana keadaan Aceh dalam 5 atau 10 tahun terakhir, kita tidak membahas lebih dari itu karena membutuhkan banyak hal yang harus kita diskusikan nantinya. Aceh dalam 5/10 tahun terakhir telah berbenah dengan sangat baik setelah terjadinya musibah besar pada tanggal 24 Desember 2004 yaitu Tsunami. Namun, Apakah sekarang kehidupan masyarakat Aceh sudah sejahtera?. Pertanyaan ini tentunya akan menghasilkan jawaban yang berbeda tergantung kepada siapa kita menanyakan. Kalau kita merujuk kepada hasil kajian IDeAS dari Data Sosial Ekonomi BPS menunjukkan tingkat kemiskinan di Aceh periode September 2015 tertinggi kedua di Sumatera setelah Bengkulu (17,16 persen), sedangkan di Indonesia, Aceh menempati urutan ke tujuh provinsi termiskin, dibawah Nusa Tenggara Barat (16,54 persen). Tiga provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi pada September 2015 masing-masing yaitu; Papua 28,40 persen, Papua Barat 25,73 persen, dan NTT 22,58 persen. Dari data tersebut kita bisa simpulkan bahwa Aceh masih belum sejahtera karena angka kemiskinan menunjukkan ketidaksejahteraan. Mungkin kita masih tidak percaya, Aceh dengan anggaran APBD terbesar di sumatera, memiliki dana Otsus tapi menempati urutan kemiskinan ketujuh dari tiga puluh tiga propinsi di Indonesia. Belum lagi kita melihat tingkat pengangguran dan tingkat pendidikan yang masih menjadi kelemahan Aceh sampai saat ini, hal ini tentunya menjadi tugas kita semua sebagai warga Aceh. Kewajiban kita semua untuk terus mengupayakan hal terbaik untuk kemajuan Aceh, terutama Gubernur Aceh yang merupakan pemimpin tertinggi.
Dalam waktu 5/10 tahun terakhir masyarakat Aceh masih sangat tidak puas dengan kepemimpinan Gubernur yang belum bisa menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Masyarakat Aceh masih merasakan ketidakadilan, kesenjangan sosial, kepentingan induvial, kepentingan elit politik dan ketidakpuasan terhadap kinerja Gubernur Aceh. “Yang kaya, kaya ajue, yang gasien mesubeu lam taneh” Begitulah kira-kita ungkapan perasaan masyarakat Aceh sampai saat ini.
Masa lalu memang perlu di kenang untuk dijadikan pelajaran,Namun masa depan lebih penting untuk di tata karena disana masih ada harapan untuk bisa hidup lebih baik. Sebentar lagi, tepatnya tanggal 15 Februari 2017 kita akan kembali menentukan siapa Gubernur kita, siapa pemimpin masyarakat Aceh selama 5 tahun kedepannya. Warga Aceh kini di hadapkan dengan 6 calon Gubernur dan wakil Gubernur yang akan bertarung nantinya, dimana kita sangat yakin sampai sejauh ini kita semua sudah bisa mengetahui visi-misi, kinerja dan latar belakang semua calon. Hal ini tertunya bisa menjadi dasar dalam menentukan pilihan kita nantinya, tanpa ada paksaan dan intervensi dari kelompok manapun.
Satu hal yang menurut saya harus kita luruskan adalah pemahaman sebagian masyarakat khusus bagi mahasiswa dan kaum muda lainnya yang saat ini semakin tidak peduli dengan pemilihan umum (Pemilu), sebagian masyarakat sudah tidak peduli dengan siapa yang memimpin Aceh karena mereka sudah lelah dengan janji-janji pemimpin yang selalu dikhianati. “Adiek kupileh pieh loen tetap mukat bak kide brok nyoe, tetap pajouh bu ngen bok itiek masen ken hana guna loen pileh, yang na nah awak nyan mesenang-senang ngen peng rakrat, ipeu senang pruet roe, pane na ipekeu ke rakyat menye ka menang”¬†Begitulah contoh ungkapan sebagian masyarakat Aceh yang menunjukkan rasa kekecewaan untuk memilih kembali. Di kalangan mahasiswa atau kaum muda lainya juga mulai memilih untuk apatis dalam hal ini, mereka mulai bosan dengan sandiwara dan drama tokoh politik saat ini. Bagi sebagian mereka tidak memilih adalah pilihan yang tepat.
Kekecewaan tersebut membuat masyarakat Aceh memilih untuk berada di arena Golput (Golongan Putih) alias tidak menggunakan hak suara untuk memilih. Hal ini mereka lakukan dengan dasar yang nyata sebagaimana saya jelaskan di atas tadi namun, kita sebagai warga yang peduli dan sudah sangat cerdas dalam menyikapi berbagai permasalahan Golput bukanlah sebuah solusi tepat untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Siapa bisa menjamin dengan tidak menggunakan hak suara Aceh akan menjadi lebih baik?. Mungkin ada yang berpendapat bahwa ketika tidak memilih berarti tidak bersalah ketika kinerja Gubernurnnya tidak benar, lantas apa seperti itu bukti kecintaan kita terhadap daerah Aceh ? Dengan membiarkannya begitu saja ?Apakah itu disebut sebuah kontribusi yang benar ?

Wahai keluargaku, masyarkat Aceh. Semua kita sudah paham bahwa kezaliman akan terus berjaya jika kita tidak pernah berusaha menghapusnya, kezaliman akan terus ada bukan karena banyaknya manusia zalim namun karena banyaknya manusia baik yang diam. kalau kita menginginkan kebaikan maka mari kita tentukan bersama.

Suku Mante, Aceh?

Lantas sebagian masyarakat masih tetap dengan prinsip untuk Golput karena bagi mereka tidak ada calon yang baik, semuanya sama saja, semua hanya bisa berjanji dan lain sebagainya.
Jika semua calon tidak baik alias buruk atau zalim di mata kita!, maka pilihlah siapa diantara mereka yang ketidakbaiknya, kezalimannya atau keburukannya paling sedikit, pilihlah yang menurut kita akan menghasilkan kezaliman paling kecil karena setidaknya kita sudah melakukan tugas kita dengan baik yaitu menggunakan hak pilih untuk memilih yang terbaik.
Karena semua kita menginginkan Aceh yang lebih baik, maka sudah saatrnya kita tidak lagi melakukan Golput. Dimulai dari pemimpin yang amanah, kita akan terus berusaha bersama-sama untuk membangun Aceh lebih baik. Dengan harapan, kerja keras dan doa bersama pasti akan lebih mudah untuk  mewujudkannya. Aceh Loen Sayang, Sabeu lam hate!.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *