Cerpen: Panggilan Tak Terduga (Kisah Nyata)

Posted on: November 27, 2017, by :
Cerpen: Panggilan Tak Terduga (Kisah Nyata)

Cerpen Ibu !

Kesunyian malam mulai terbenam dengan kelembutan angin yang menerpa pepehonan alam, bak kerinduan hati yang tergantikan akan indahnya kasih sayang seorang ibu.
“Irham, bangun nak ! Shalat subuh dulu.” Panggil ibu Maryam membangunkan anaknya.
“Umm… ia bu, bentar lagi… !” Jawab Irham dengan suara terbata-bata dan mata terttutup.
“Sudah jam 6.30 nak, shalat dulu. Nanti keburu siang !” Seru ibu mengusap-usap kepala anaknya.
“Ea.. ea… bu, Irham bangun !”
Irham menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu’ dan melaksanakan shalat subuh. Ibu Maryam tidak tinggal diam, ia pun menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi bagi suami dan anak-anaknya.
“Bu… Kak Mina dimana ? Kok pagi-pagi begini gak ada dirumah”. Tanya Irham yang baru keluar dari ruang musalla.
“kakakmu… lagi cuci baju nak, disungai belakang”. Jawab ibu yang sedang memotong bawang merah untuk menggoreng telur.
Rumah Irham termasuk rumah yang sederhana dan letaknya strategis, di belakang rumahnya ada sebuah sungai yang sering digunakan oleh orang-orang kampung, khususnya ibu-ibu rumah tangga untuk mencuci baju.
Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 pagi diiringi sinar mentari yang mengintip di balik pepohonan dan kegelapan pun mulai menghilang bersama desakan-desakan mentari yang datang dengan sinar indah mencerahkan pagi.
“Bu… !” Panggil Pak Amin kepada istrinya.
“Ea.. pak ! Bapak mau kemana ? Kok dah siap-siap begini !”
“Bapak mau ke kebun dulu”.
“Yach.. Bapak kan belum sarapan !?” Seru Ibu Maryam dengan nada khawatir.
“Nanti, pulang dari kebun.Cuma pergi sebentar aja kok bu.” Bapak coba menenangkan ibu.
“Ya sudah, hati-hati Pak. Kalau sudah siap langsung pulang ya !”.
Bapak ambil mengambil parang di lemari dapur dan langsung berangkat ke kebun yang tidak jauh dari depan rumahnya. Sementara Ibu Maryam menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu’ karena ingin Shalat Dhuha yang sudah menjadi kebiasaannya. Kedua anaknya sedang sarapan sebelum berangkat ke tugasnya masing-masing. Irham duduk di kelas 2 MAN sedangkan Kakaknya serorang guru di sebuah sekolah menengah di daerahnya.
“Kakak….” Suara panggilan dari Ibu Maryam dengan nada lemah.
“Uwan.. bu. Mina mau berangkat ne… “ Jawab Kakak Irham yang sedang mengunci pintu kamar.
“Sini dulu nak”.
Mina pun melangkah ke ruang mushalla untuk menemui ibunya.
“Ada apa bu ?”
“Ibu seperti  kurang sehat nak, gak tahu tiba-tiba badan ibu lemah sekali”.
“Ibu sudah sarapan ?”
“Sudah nak. Tolong buatin air manis buat ibu.”
Bergegas Mina menuju dapur untuk membuat air manis permintaan ibunya.
“Ini bu !” Mina memberikan air gula buatannya sambil meminumkannya.
“Eheekkk… heek…kkkk… “ Suara Ibu Maryam yang tiba-tiba seperti orang sekarat.
“Bu… Ibu kenapa ?” Suara Mina dihantui perasaan cemas.
“Ibu kenapa ?” Mina menangis sambil memeluk erat ibunya.
Mina berlari keluar kamar walau hatinya tak tega meninggalkan ibunya sendirian.
“Bang…, tolong Bang ! Tolongin ibu saya… “. Mina memanggil histeris orang-orang kampung yang sedang lewat di depan rumahnya.
Tanpa bertanya orang-orang itu langsung masuk dengan perasaan khawatir, sampai di kamar langsung memopong  Ibu Maryam.
“Bapakmu kemana dek ?” Tanya salah seorang dari mereka kepada Mina.
“Ke kebun depan” jawab Mina singkat dengan air mata terus mengalir di pipinya.
Bang Anwar tetangga terdekat yang tadi bersama orang-orang langsung ke kebun untuk mencari Bapak Mina.
“Pak Amin, Istri Bapak sakit keras”.
“Haah, yang benar Anwar ? Jawab Pak Amin seperti tidak percaya.
“Benar Pak. Cepatan pulang… !!!”
Pak Amin yang tiba-tiba dihantui rasa cemas dan khawatir langsung meninggalkan pekerjaannya dan bergegas kembali ke rumah. Sesampai di rumah, istrinya sudah dikeluarkan dari rumah dengan maksud ingin membawanya ke rumah sakit. Pak Amin rasanya masih tak percaya, baru 20 menit ia meninggalkan rumah dalam keadaan baik-baik saja. “Tapi.. kenapa bisa berubah secepat ini ?”
###
Kebisingan mobil mengikuti kekhawatiran, hanya doa yang dapat dikirmkan kepada Ibu yang sedang berjuang antara hidup atau menutup mata untuk selamanya. Tidak terasa keringat dan air mata kesedihan bercucuran membasahi, pikiran tak karuan seolah keinginan untuk melihat ibu kembali sadar tidak akan terwujud.
“Bu.., bangun bu !!” Suara Irham yang baru pulang dari sekolah duduk di samping Ibunya.
“Bu… ibu bangun ya…” Bisik Kakak Irham yang sejak tadi  pagi menemani Ibunya bersama Ayah.
“Nak, ibu pasti bangun. Ibumu Cuma butuh istirahat saja.” Suara pak Amin dari sudut ruangan sambil mendekati anaknya.
“Nak, sebaiknya kita Shalat Dhuhur dulu sambil berdoa untuk kesembuhan ibumu”. Lanjut Ayah sambil memeluk dua permata hatinya.
“Ia.. Pak !” Mina menghapus air matanya sambil mengajak adeknya untuk mengambil wudhu’. Mereka keluar ruang Ibu Maryam dengan hati tak tega dan langkah yang tak pasti karena hanya kecemasan yang melintas di benak mereka.
Keramaian dan ratapan memenuhi gedung putih yang diiringi zikir dari bibir-bibir insan yang mengharap anugerah dan kasih sayang Nya, kepada hamba yang sedang membutuhkannya.
“Allahu akbar.”
Suara Pak Amin yang sedang Shalat bersama anak-anaknya di ruang rawat itu. Sesudahshalat Pak Amin langsung mendekat Ibu Maryam sambil mengantarkan kalimah-kalimah thaibah di sampingnya. Sedangkan Irham dan Mina langsung membaca surat Yassin dengan harapan semoga Allah memberi kekuatan kepada Ibu mereka dan bisa melewati cobaan ini.
“Haaaakk… akkkh !!” Suara desis dari mulut Ibu Maryam.  Keadaannya terlihat semakin parah. Detak jantungnya tidak stabil, membuat suasana semakin menegangkan.
“Bu… ! Ibu … !!” Raung Irham dan Mina yang terkejut dengan keadaan ibunya.
Pak Amin langsung keluar dengan maksud memanggil dokter karena milihat keadaan istrinya semakin parah.
“Nak… sabar nak … ! Ibumu akan segera membaik. “ Bisik Pak Amin dari belakang anaknya yang ditemani seornag dokter.
“Dek, sabar ya.” Dokter menguatkan Irham sambil memeriksa Ibu Maryam.
Ketegangan demi ketegangan memenuhi ruangan itu. Air mata pengharapan seolah tak punya daya untuk melawan semua itu. Hati berdebar dengan kecemasan memuncak memenuhi benak Irham. Ia tidak bisa melawan rasa takut akan mata ibunya tertutup selama-lamanya.
“Pak !” Panggil dokter kepada Pak Amin.
‘Iya, bagaimana Dok ?”
“Mohon maaf pak… Semua ini sudah takdir. Cuma ini yang dapat kami lakukan, Bapak sabar ya.” Ucap dokter dengan nada ragu.
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun…”
“Ibuuu…” Suara serentak antara Irham dan Kakaknya memecah kesunyian.
“Sabar nak, tabahkan hatimu. Ibu sudah tenang nak… !” Pak Amin mencoba menenangkan putra-putinya.
“Ibu…
Ibu jangan pergi…
Ibu jangan tinggalkan Irham, Bu..
Irham sayang sama Ibu
Irham gak mau kehilangan Ibu.
Ibu… ibuuuu…!!!”
###
Kesedihan menyelimuti Irham. Jiwanya melayang bersama harapan yang tak kunjung tercapai. Batin suci bergerak menopang raga yang tak berdaya. Air mata kasih sayang menembus jaringan sel darah terhenti seolah ikut merasakan. Otot badan mencoba berkontraksi dengan gerakan sendi yang saling melengkapi. Tapi, apalah daya ketika sumber jiwa sudah tak tersentuh, jiwa kehilangan remot kontrol – tak dapat lagi berjalan  – seakan komponen tubuh mati tak berdaya. Batin lemah, perasaan di selimuti rasa ingin bersama orang yang di sayangi. Itulah bahasa tubuh Irham seakan mencoba menceritakan apa yang di rasa.
Irham tidak sanggup menahan desakan jiwa yang kehilangan arah, hanya keajaiban datang yang diharapkan. “Tapi apakah itu mungkin ?”.
Hati Irham melumat kasih sayang yang hendak terkubur bersama kenangan indah masa lalu. Hati terus mendesak jalan aliran darah yang berkontraksi begitu cepat. Tak tahu apa yang ingin dinampakkan, tapi desakan itu mempunyai arti yang ingin disampaikan.
Hati Irham seolah berkata “Ibu… kasihmu takkan terganti. Aku tak  percaya akan semua ini. Kenapa  ini terjadi padaku ?. Ibu, kenapa ibu pergi ? Kenapa Ibu pergi setelah memberikan semuanya padaku. Di saat aku sudah siap menatap masa depan yang cerah.
Aku ingin membahagiakan Ibu. Semua kenangan Ibu selalu melintas di benakku. Dulu… Ibu selalu ada di sampingku, menjagaku, merawat dan menemani hari-hariku. Di saat aku pulang ke rumah ibu selalu menantiku, mencium pipiku, dan menyiapkan makanan untukku. Tapi sekarang, semua terasa sepi…!!!.
Ibu…
Aku teringat ketika Ibu menetes air mata untukku. Ketika itu aku sedang tertidur lelap di kesunyian malam. Gerak lembut tanganmu mengusap-ngusap rambutku seakan memberi isyarat pada jiwaku untuk bangun  dan memelukmu. Namun… Tatkala air matamu menetes di dahiku, jiwaku terbenam dalam kesadaran, mataku tertutup tapi hatiku sadar akan indahnya kasih darimu.
Usapan lembut terus kurasakan bersama tutur pesanmu yang tersimpan di kalbuku. Tapi…. Kenapa ? ketika aku ingin membahagiakanmu… Ibu menghilang dari hidupku. Aku tak kuasa bu…!! Aku ingin bersama Ibu lebih lama lagi.”
“Astaqhfirullah hal azim”. Suara Irham yang tersadar dari lamunannya. Irham mencoba menenangkan hatinya sembari berkata :
“Maafkan Irham Bu. Irham tidak bermaksud menyalahkan Ibu. Semua ini sudah ketentuan-Nya. Irham harus ikhlas. Ibu jangan khawatir, Irham akan selalu merindukanmu lewat untaian doa-doa yang selalu Irham kirim untuk Ibu. Ibu jangan merasa kesepian karena kasih sayang rinduku akan selalu menerangi jalanmu. Walaupun ibu tak bersamaku lagi, namun… batin dan jiwaku tak kan jauh darimu. Aku berjanji bu, akan selalu membuat Ibu tersenyum di sana.
Terakhir aku pohon pada-Mu
Ya Allah…
Ampunilah dosaku, dan dosa-dosa ibuku.
Sayangilah ia, sebagaimana ia menyayangiku … dan
Tempatkanlah ia di surga-Mu
Amin… Amin ya rabbal alamin.”

 

Ditulis Oleh : Amrina
 Tanggal 16 Maret 2011  

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *