Pro Kontra Sertifikat IELTS/ TOEFL IBT Untuk Daftar Beasiswa Pendidikan Indonesia, Dimana Keadilan dan Tujuan Mencerdaskan Bangsa

Posted on: Maret 28, 2017, by :

 

Pro kontra sertifikat IELTS/IBT
Beasiswa merupakan “perhiasan” berharga bagi sebagian besar mahasiswa untuk dapat melanjutkan pendidikan mereka, khususnya bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu untuk membiayai uang kuliah, jangankan membiayai uang kuliah untuk makan saja mereka belum tentu sanggup memenuhi. Namun, dalam hal ini pemerintah sudah sangat sadar akan keadaan tersebut, pemerintah sadar bahwa salah satu tujuan berdirinya bangsa indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan salah satu faktor penting dalam hal mewujudkan hal tersebut adalah dengan memberikan pendidikan yang merata ke semua penduduk Indonesia.
Beranjak dari hal tersebut, Bangsa Indonesia terus berusaha untuk memberikan bantuan berupa beasiswa kepada setiap mahasiswa yang membutuhkan dan sesuai dengan persyaratan yang sudah ditentukan. Beasiswa yang paling fenomenal di Indoensia saat ini merupakan Beasiswa Penddikan Indonesi (BPI) yang lembaga ini dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atau sering disebut sebagai Beasiswa LPDP dimana beasiswa menjadi rebutan banyak orang di selurih pelosok Indonesia baik yang mau melanjutkan pendidikan di dalam negeri maupun di luar negeri. Banyaknya peminat membuat pemerintah terus melakukan evaluasi dari tahun ke tahun dengan tujuan agar beasiswa ini menjadi lebih tepat sasaran dan menjadi lebih baik.
Lebih luasnya,  Beasiswa LPDP bertujuan untuk mendukung ketersediaan sumber daya manusia Indonesia yang berpendidikan dan berkualitas serta memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi dan mempunyai visi masa depan bangsa yang kuat sebagai pemimpin Indonesia masa depan. Komitmen LPDP tersebut diwujudkan melalui pemberian bantuan pendanaan dalam bentuk beasiswa kepada masyarakat untuk studi lanjut pada program Magister atau program Doktoral di Perguruan Tinggi unggulan baik di dalam maupun di luar negeri bagi yang memenuhi kualifikasi LPDP. Sasaran Pendaftar BPI Program Magister dan Doktoral adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang mempunyai kemampuan akademik yang unggul dan jiwa kepemimpinan yang kuat serta berkeinginan untuk melaksanakan studi lanjut pada program Magister atau program Doktoral pada perguruan tinggi tujuan LPDP baik pada bidang ilmu yang sama maupun berbeda dengan bidang ilmu pada jenjang pendidikan sebelumnya
Dalam memberikan beasiswa tersebut tentunyaLembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menetapkan berbagai persyaratan yang sudah kita ketahui bersama, Jika belum tau silakan kunjungi situs remsi LPDP. Dari berbagai persyaratan yang sering terjadi pembicaraan hangat adalah syarat yang mengharus setiap mahasiswa yang ingin mendaftar beasiswa LPDP harus memiliki sertifikat bahasa inggris atau dikenal dengan IELTS/ TOEFL IBT dengan skor tertentu. Dalam persyaratan resminya berbunyi;
Pendaftar Magister Dalam Negeri harus memiliki dokumen resmi bukti penguasaan bahasa Inggris sebagaimana dimaksud pada angka (10) dengan skor sekurang-kurangnya:
TOEFL ITP® 475/iBT® 57/IELTS™ 5,5/TOEIC® 600 bagi pendaftar yang memiliki LoA Unconditional;
TOEFL ITP® 500/iBT® 61/IELTS™ 6,0/TOEIC® 650 bagi pendaftar yang tidak memiliki LoA Unconditional; atau
TOAFL 500 bagi program studi yang mensyaratkan TOAFL sebagai syarat masuk.
Pendaftar Program BPI Magister Luar Negeri harus memilki dokumen resmi bukti penguasaan bahasa Inggris sebagaimana dimaksud pada angka 10 memiliki skor sekurang-kurangnya:
TOEFL iBT® 75/IELTS™ 6,5/TOEIC®750 bagi pendaftar yang memiliki LoA Unconditional; atau
TOEFL iBT® 80/ IELTS™ 6,5/TOEIC® 800 bagi pendaftar yang tidak memiliki LoA Unconditional
Persyaratan tersebut menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat Indonesia terutama di kalangan akademis dimana sebagian menilai bahwa persyaratan tersebut merupakan hal yang sangat bagus untuk membuat mahasiswa yang bersangkutan memiliki dorongan dan keseriusan dalam memperoleh beasiswa. Sebagian lagi berpedapat bahwa persyaratan tersebut menyalahi landasan Indonesia yaitu sila kelima pancasila “Keadilan  bagi seluruh rakyat Indonesia” dimana pihak yang kontra ini melihat bahwa pendidikan Indonesia belum merata sehingga jika persyaratan tersebut diberlakukan untuk umum maka tidaklah adil bagi mereka yang sampai saat ini jangankan untuk memperoleh nilai TOEFL , mengenal saja  belum apa itu TOEFL dan sejenisnya. Walaupun dalam programnya LPDP ada memberi perlakuan khusus untuk daerah 3T (Terpencil, Terluar, Tertinggal). Namun, itu belum menunjukkan keadilan pada kenyataannya.
Berbicara masalah pro dan kontra akan hal ini, kami tertarik untuk membagikan pendapat seorang anak bangsa yang begitu peduli terhadap kondisi pendidikan Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan. Dia adalah Mas Budi Waluyo yang sangat dikenal sebagai pendiri Sekolah TOEFL di media sosial facebook. Berikut catatan Mas Budi Waluyo;
 
Part I
* Can’t Believe This! *
Jujur, saya tidak bisa memahami argumen memberikan beasiswa untuk keadilan dan kemajuan bangsa, tetapi menerapkan IELTS/ TOEFL IBT sebagai persyaratan awal melamar beasiswa.
Sadarkah anda kalau persyaratan ini otomatis membuat jurang pemisah dan ketidakadilan antar anak bangsa?
Saya bukan mengkhawatirkan mereka yang memiliki dana banyak untuk belajar bahasa Inggris, tinggal di kota besar, serta punya akses fasilitas dan informasi yang mudah diraih.
Ada ribuan anak-anak Indonesia yang TOEFL ITP saja baru mengenal. Untuk menaikkan skor 500 saja sudah ngos-ngosan. Jangankan mengeluarkan uang jutaan, ambil tes TOEFL ITP yang 500 ribu saja harus berfikir 10 kali. Sudah begitu, sekali tes, belum tentu skornya sesuai standar. Bayangkan kalau mereka harus tes IELTS/ TOEFL IBT yang biayanya 2 jutaan, beberapa kali.
Tapi, mereka punya mimpi untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Salah kah ini?
Apakah mereka dianggap bodoh karena tidak bisa memberikan sertifikat IELTS/ TOEFL IBT dengan skor yang disyaratkan?
Apakah mereka dianggap tidak mampu studi ke luar negeri karena tidak bisa memberikan sertifikat IELTS/ TOEFL IBT dengan skor yang disyaratkan?
Apakah skor IELTS/ TOEFL IBT ini yang menjadi standar indikator anak bangsa yang mampu membangun negeri ini?
Entahlah.
Setahu saya, dulu saya tidak tahu apa itu IELTS dan TOEFL IBT. Beasiswa S2 saya membiayai pelatihan bahasa dan membayar tes TOEFL ITP. Kemudian, mereka mengenalkan saya dengan IELTS dan membiayai semuanya. Beasiswa S3 saya mengenalkan saya dengan TOEFL IBT dan GRE, dan membiayai semua.
Start saya dulu di “tidak tahu tentang IELTS dan TOEFL IBT”.
Start saya dulu “tidak terlalu pandai di bahasa Inggris”.
Tetapi, ketika saya diberikan “proper enabling conditions”, kemampuan saya meningkat, akhirnya bisa studi S2 di Inggris dan sekarang S3 di Amerika.
Pahamilah, we can’t judge that somebody can’t do something, while she/ he doesn’t have the privilege to learn about it. If we give them an opportunity, they will probably be able to perform, even better!
Now, I know “The unseen gaps are really being enacted. You are acting as if closing the gaps, while you are actually widening the gaps.”
Can’t believe this!
 
Part II
* Ani dan Budi *
Di satu Jum’at malam. Ani dan Budi diskusi hangat, mengabaikan jarum jam yang sudah melewati angka 12:
Si Ani: Mayoritas kampus di Luar Negeri tidak menerima TOEFL ITP. Jadi, wajar saja kalau pihak beasiswa mensyaratkan IELTS/ IBT dalam persyaratan awal beasiswa.
Si Budi: Sudah dari dulu TOEFL ITP tidak bisa digunakan untuk melamar ke kampus di LN. Hanya International Test, seperti IELTS dan TOEFL IBT yang diterima. Dulu ada TOEFL PBT dan CBT. TOEFL ITP setahu saya bukan International Test.

Si Ani: Tapi, ada teman saya melamar pakai TOEFL ITP di kampus Luar Negeri diterima.

SI Budi: Iya. Tapi, akhirnya akan diminta mengirimkan skor IELTS/ IBT juga. Saya dulu melamar ke kampus di Inggris menggunakan TOEFL ITP, bahkan bisa dapat Unconditional Offer dari The University of Manchester, tapi tetap mereka minta kirimkan IELTS. Kasus setiap orang mungkin berbeda, bergantung kebijakan kampus yang dilamar juga. Tapi, kebanyakkan kampus di LN tidak menerima TOEFL ITP.

Si Ani: Wajar donk kalau gitu pihak beasiswa mensyaratkan IELTS/ IBT sebagai persyaratan awal. Perlu anda ketahui, pihak beasiswa perlu memastikan bahwa si penerima beasiswa akan dapat menjalani studi dengan baik di LN nanti. Menetapkan standar bahasa yang tinggi adalah salah satu usaha agar tidak ada penerima beasiswa yang gagal saat studi di LN nanti. bayangkan gimana dia bisa belajar dan bergaul kalau bahasa Inggrisnya saja jelek!

Si Budi: Iya wajar. Itu artinya si pihak beasiswa tidak mau rugi dan hanya mencari a ready package saja. Bayangkan, ketika persyaratan IELTS/IBT diterapkan, pelamar seperti apa yang akan didapatkan? Pelamar yang sudah pintar bahasa Inggris dan pastinya sudah memiliki skor IELTS/ IBT yang memadai untuk melamar ke kampus di luar negeri. Saat melamar ke kampus LN pun tidak terlalu sulit lagi karena sudah memiliki skor tes yang bagus; tinggal melengkapi persyaratan esai dan dokumen lain. Lalu, kerja pihak beasiswa tinggal memberikan uang untuk studinya. Sudah. Kegagalan studi penerima beasiswa di masa depan terminimalisir

Si Ani: Terus apa yang jadi masalah mas?

Suasana hening sejenak setelah Ani memberikan pertanyaan menohok: Terus, apa yang menjadi masalah, Mas?
Gigi Budi yang putih karena sering digosok sikat gigi formula rasa Mint menyembul beberapa menit kemudian, menampakkan satu senyuman.

Si Budi: Ibaratnya jam makan siang. Biasanya, anda membagikan apel kepada murid. Hari ini, ada 4 murid berkumpul. Kemudian, anda berikan satu murid, satu apel.

Si Ani: Adil donk?
Si Budi: Iya. Kata yang digunakan untuk menggambarkan situasi ini adalah “equality”, dimana setiap orang mendapatkan hal yang sama, baik dalam bentuk akses maupun jumlah.

Si Ani: Terus, apa hubungannya dengan beasiswa?

Si Budi: Beasiswa yang mensyaratkan IELTS/TOEFL IBT ini terbuka untuk umum. Siapa saja bisa melamarnya. Semua pelamar juga diperlakukan sama. Beasiswa ini sebagai media untuk akses pendidikan tinggi sudah bersifat “adil” dalam artian memberikan kesempatan yang sama kepada semua penduduk Indonesia. Ini konsep sederhana equality dalam pendidikan.

Si Ani: Terus, apa yang menjadi masalah, Mas?

Si Budi: Ketika guru itu membagikan apel, adakah terbersit dipikirannya tentang kondisi berbeda yang mungkin sudah dilalui oleh ke 4 murid itu?

Si Ani: Maksudnya?

Si Budi: Satu murid mungkin sudah sarapan pagi tadi, jadi satu apel cukup baginya. Satu murid lagi mungkin tidak sarapan, jadi satu apel tidak bisa mengeyangkan perutnya seperti yang sudah sarapan. Yang lain mungkin malam dan pagi tadi tidak makan, jadi dia butuh 3 apel agar bisa mencapai rasa kenyang yang sama dengan dua orang sebelumnya. Murid yang terakhir bisa jadi sudah sarapan pagi dan sudah makan beberapa buah apel, jadi apel yang diberikan oleh guru ini sudah biasa baginya.

Si Ani: Jadi, ketika kita memberikan kesempatan, kita juga harus mempertimbangkan kondisi orang yang diberikan kesempatan tersebut?

Si Budi: Iya. Ini konsep sederhana dari “equity” dalam pendidikan. Ketika satu beasiswa hanya memikirkan equality, dia akan miss satu poin penting bahwa “situasi setiap orang berbeda”. Jika konsep ini dikedepankan, penerima beasiswanya nanti adalah those who have been enjoying privileges. Buat mereka yang tidak mampu memenuhi persyaratan, good bye! Toh, kesempatan sudah dibuka sama. Namun, ketika konsep equity yang dimasukkan, beasiswa ini akan dapat melihat bahwa “they have to do more to help those who have less”; bahwa memberikan kesempatan terbuka saja tidak serta merta membuat mereka address the problem; ketimbang menutup, kesempatan ini bisa jadi memperlebar jarak antara mereka yang hidup penuh keterbatasan dengan mereka yang sudah menikmati hidup dengan akses serba mudah – di titik inilah sebenarnya, permasalahan mendasar pendidikan sering terjadi.


Si Ani: Kan ada beasiswa Afirmasi, Mas?!
 
Part III
* Yuk, kita wacanakan isu ini *
Tiga hari ini sengaja saya membahas satu topik tentang beasiswa yang mensyaratkan IELTS/IBT sebagai persyaratan awal. Terima kasih buat yang sudah komen, baik yang pro maupun kontra, juga buat yang like dan share.
Percayalah, kalau ini bukan beasiswa pemerintah yang sudah profesional dan bagus pengelolaannya, saya tidak akan mengangkat isu ini. Karena sudah bagus, rasanya sayang sekali kalau harus menjadi bagian dari yang merasa memberikan kesempatan dan solusi tetapi lain yang terjadi.
Sejak mendapatkan beasiswa S2 di 2010 lalu, saya sudah bilang ke diri sendiri bahwa saya harus bantu lebih banyak lagi orang yang dalam situasi saya dahulu untuk mendapatkan beasiswa. Fokus saya ke orang-orang yang terbatas kemampuan bahasa Inggrisnya, terbatas secara waktu, finansial, maupun fasilitas belajar.
Kita tidak bisa mengatakan orang ini tidak mampu kuliah ke luar negeri hanya karena kondisinya sekarang tidak mampu berbahasa Inggris, sementara dia tidak memiliki kesempatan belajar maksimal seperti yang dimiliki kaum elit.
Hampir 2 tahun juga saya menjalankan Sekolah TOEFL dan Sekolah Inggris. Sudah ribuan siswa dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Kenyang sudah saya dengan berbagai curhatan siswa. Ini bukan soal ketidakmauan berusaha atau mau mencari alasan. Motto kita adalah Let’s break the limits! Jangan biarkan keterbatasan yang ada membuatmu tidak mampu berbuat lebih dari yang orang lain. pikirkan.
Saya akan lanjutkan membahas soal isu ini. Kalau ada waktu dan kesempatan, saya akan coba hal lain.
Yang pasti, mohon jangan bicara tentang aksi dan solusi nyata, karena sudah kita lakukan perlahan lewat Sekolah TOEFL dan Sekolah Inggris. Akan terus berlanjut ke program-program lain perlahan.

Yang pasti, mohon jangan bicara tentang kemalasan, mencari alasan, atau ketidakmauan berusaha. Andai anda berkesempatan membimbing siswa-siswa Indonesia yang ribuan ini setiap hari, anda akan paham kalau usaha yang dilakukan mereka adalah wujud semangat untuk tidak mau menyerah dengan keadaan.

Pro dan kontra dalam masalah ini merupakan bukanlah sebuah kesalahan dimana kita harus saling meremehkan pendapat satu sama lain, semua orang berhak memberi pendapat yang menurut dia itu benar namun tidak untuk menyalahkan orang lain hanya karena tidak semua dengan pendapat dia. Semoga artikel Pro Kontra Sertifikat IELTS/ TOEFL IBT Untuk Daftar Beasiswa Pendidikan Indonesia ini bisa memberi pandangan kepada kita selaku rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *