Meraih Kesuksesan Sesuai Catatan Agama

Posted on: Maret 3, 2017, by :


Salam hangat sobat samalangaku.com,

Sukses merupakan kata yang sangat mudah diucapkan, namun tak mudah untuk mewujudkan bahkan sangat sering kita gagal meraihnya. Kesuksesan menjadi sebuah tujuan bagi sebagian besar orang yang harus mereka raih. Akan tetapi, masing-masing orang memandang  kesuksesan itu  dengan pengertian yang berbeda-beda. Ada yang berpandangan bahwa kesuksesan ketika kita bisa memiliki mobil mewah, rumah mewah dan sebagainya. Ada yang melihat kesuksesan itu ketika kita menjadi pengusaha yang kaya, pejabat negara dan sebagainya. Ada pula yang menyakini kesuksesan itu  ketika kita memiliki keluarga yang lengkap, istri yang cantik, anak-anak kita tumbuh dengan baik dan sebagainya.
Semua orang memiliki pandangan yang berbeda tentang kesuksesan itu sendiri dimana orang yang sakit memandang kesuksesan itu adalah ketika mereka bisa menjadi sehat, orang miskin memandang kesuksesan itu ketika mereka bisa menjadi orang kaya, seorang karyawan memandang kesuksesan itu ketika mereka bisa menjadi direktur kepala dan begitu seterusnya.
Apakah semua itu benar ? atau bukan itu yang di maksud kesuksesan yang sebenarnya. Sebelum kita memutuskan yang mana makna sukses yang sebenarnya, mari kita berpikir dan merenungkan dengan hati nurani kita.
  • Jika sukses diukur dari banyaknya harta yang kita miliki, maka harus kita tanyakan sebanyak harta yang harus kita miliki sehingga kita bisa sukses?. Tentu kita tidak bisa menjawab secara pasti, karena manusia sekelas Karun yang kita kenal dalam sejarah sebagai manusia yang memiliki kekayaan tak terhingga belum juga dikatakan sukses. Akhir hidup Karun mati dengan kebinasaan akibat perbuatannya sendiri, lantas apakah bisa kita katakan Karun sukses kalau akhir hayatnya saja tidak menyenangkan. Kalau Karun saja bukan manusia sukses dengan begitu banyak hartanya maka tidak perlulah kita melihat manusia lain yang hartanya mungkin tidak seberapa. Banyak orang kaya justru hidupnya tidak tenang, mereka gelisah, mereka tidak bisa tidur dengan nyaman karena terus berpikir hartanya. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa banyaknya harta tidak menjamin orang tersebut sudah sukses dalam hidupnya.
  • Jika sukses di ukur dengan kekuasaan yang kita miliki, maka kekuasaan apa yang harus kita raih agar kita bisa di katakana sukses? Mari kita melihat bagaimana kisah Fir’un seorang raja yang sangat kuat pada masanya sampai dia berani mengakui dirinya Tuhan. Kekuasaan yang besar membuat Fir’un merasa bahwa dirinya adalah orang terkuat dan tidak ada yang berani melawan dirinya. Namun, apa yang terjadi ? Fir’un juga binasa dengan kekuasaannya dimana dia mati dalam laut saat mencoba mengejar Nabi Musa. Kalau kekuasaan sekelas Fir’un saja belum bisa membawa dia menjadi orang sukses maka kita tidak perlu melihat kekuasaan yang lain yang mungkin tidak seberapa. Banyak orang  yang memiliki jabatan tinggi, sukses dalam dunia politik justru membuat hidup mereka tidak tenang, selalu berada dalam keadaan dimana mereka harus melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan. Oleh karena itu, kekuasaan bukanlah hal untuk mengukur kesuksesan dalam hidup ini.
Dan masih banyak lagi ukuran-ukuran yang selama ini kita gunakan untuk mengukur bahwa kesuksesan kita, padahal setelah kita memilikinya kita masih belum puas dan masih ingin meraihnya. Katakanlah kita ingin memiliki mobil mewah biar orang lain memandang kita sebagai orang sukses, namun ketika mobil itu sudah kita miliki belum juga puas, kita ingin memiliki mobil yang lainnya. Begitulah jika kesuksesaan hanya kita ukur dengan materi maka kita tidak akan pernah benar-benar mencapai kesuksesan yang hakiki itu.
Dalam catatan agama sebenarnya sudah ada indicator apa saja yang harus kita penuhi sehingga kita bisa merasakan kesuksesan yang sebenarnya, kesuksesan yang benar-benar mendatangkan ketenangan dalam hidup, kebahagian yang sesungguhnya dan kenikmatan hidup yang semua kita ingin rasakan. Ada beberapa hal yang sudah agama gariskan, diantaranya adalah;
Tersambungnya Sinyal Iman dengan Allah : Kita sering kali melupakan keadaan iman kita saat ini, padahal kita sadar bahwa Iman merupakan laksana jantung dalam kehidupan, sama halnya dalam tubuh kita ada jantung yang berfungsi untuk memompa darah supaya kita masih tetap bisa hidup. Begitu juga dengan iman kita jika iman sudah tidak berfungsi lagi maka kita sudah mati pada hakikatnya walaupun raga kita masih hidup. Iman tidak cukup ada saja namun juga harus hidup supaya hidup kita terasa nikmat. Analoginya adalah seperti HP, Jika HP adalah tubuh kita, kartu adalah iman kita maka apakah sudah cukup sampai disitu saja agar HP bisa kita gunakan untuk menelpon dan sebagainya ? Tidak! Kita harus memastika bahwa HP kita tetap berada dalam keadaan bersinyal agar HP kita bisa tersambung dengan nomor tujuan kita. Bagaimana kita bisa menghubungi Allah sedangkan iman kita mati tidak bersinyal. Mungkin kita selalu shalat, puasa, mengeluarkan zakat dengan benar dan naik haji berkali-kali namun kita masih saja belum merasakan kenikmatan dalam hidup, belum merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dan masih merasa susah dan gelisah. Hal ini karena iman kita tidak tersambung dengan Allah sang pemilik kehidupan.
Berbicara soal iman maka tidak terlepas dengan taqwa karena untuk menghidupkan sinyal iman kita, jiwa iman kita, cahaya iman kita jalanya adalah dengan melakukan taqwa yang sebenarnya. Taqwa merupakan perasaan takut akan tidak mengerjakan semua perintah Allah  sehingga kita selalu berada dalam hal yang Allah larang. Taqwa mampu membuat iman kita hidup sehingga kita sadar tidak ada hal di dunia ini yang terlepas dari penglihatan Allah, sehingga apapun tujuan kita dalam hidup ini kita selalu menyandarkannya kepada Allah. Dengan begitu kenikmatan, kebahagiaan dan ketenangan akan kita rasakan tanpa ada perasaan gelisah. Saat kita sudah merasakan hal ini maka kita sudah mencapai kesuksesan yang hakiki.
Ada Rasa Kasih Sayang dalam Jiwa : Kasih sayang merupakan ungkapan yang sangat indah untuk didengar dan di rasakan, banyangkan ketika ada orang yang mengatakan bahwa dia menyanyangi kita dan orang tersebut adalah orang tua kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita dan bahkan orang yang pernah kita jahati sebelumnya, tentu kita sangat senang bukan ? Akan tetapi, kenyataan selalu jauh dari harapan, kita sering mengandalkan kebencian, dendam dan rasa iri dalam menjalani hidup ini sehingga jiwa kita tidak pernah tenang, tidak pernah damai walaupun harta kita banyak, jabatn kita tinggi.
Berbicara tentang kasih sayang maka kita berbicara tentang cinta, sungguh suatu hal yang semua manusia ingin rasakan. Cinta yang hakiki adalah cinta kita kepada Allah, RasulNya dan mencintai selain keduanya hanya karenaNya. Bagaimana kita mencintai Allah? Tentunya dengan patuh dengan segala perintahnya dan tidak mengerjakan semua larangannya, jika pun kita tidak sanggup mengerjakan semua perintahnya maka kerjakanlah sesanggup kita, tetapi jangan sekali-kali mengerjakan apa-apa yang Allah larang. Begitu juga dengan RasulNya, jika kita cinta kepada beliau maka ikuti sunnahnya dan senantiasa bershalawat kepadanya.
Ketika cinta kepada Allah sudah baik, cinta kepada RasulNya juga baik maka sudah bisa kita pastikan bahwa cintanya, rasa kasih sayangnya sesame manusia juga akan baik. Kita tidak bisa hidup tanpa orang lain, karena itu manusia disebut makhluk social. Kita sering kali tidak peduli dengan keadaan tetangga kita, lingkungan kita dan masyarakat dimana kita tinggal. Sehingga ketika kita membutuhkan mereka kita merasa malu untuk meminta, bahkan kita malu hanya untuk sekedar saling bertegur sapa.
Oleh karena itu, Rasa kasih sayang sangat penting untuk kita tanamkan dalam diri kita agar kita bisa merasakan nikmat hidup yang sesungguhnya, kebahagiaan hidup dan kesuksesan yang hakiki. Ketika kita menyanyangi orang lain maka niscaya orang lain juga akan menyanyangi kita, sehingga dengan perasaan ini kita mampu membangun kehidupan yang jauh dari kerusakan dan permusuhan. Dengan rasa kasih sayang yang kita tanamkan dalam hidup kita maka kita tidak akan merasa sengsara ketika harta kita habis, jabatan kita selasai karena kita masih bisa hidup dengan aman dan damai.
Bersandarlah Pada Allah : Kita sering kali kecewa karena harapan dan keinginan kita tidak kunjung tercapai bahkan ada yang hilang akalnya karena terlanjur kecewa dimana dia berani untuk mengakhiri hidupnya. Rasa kecewa yang datang adalah wajar bagi kita manusia, namun kekecewaan yang berlebihan akan membuat kita hilang akal sehat. Hal yang sering membuat kita kecewa adalah karena kita terlalu yakin dengan hal yang akan kita raih, kita terlalu berharap kepada manusia , padahal kita lupa ada zat yang harus selalu kita sertakan dalam setiap langkah kita yaitu Allah.  Tugas kita manusia hanyalah sekedar berusaha dan berdo’a, setelah itu apapun hasilnya serahkan sama Allah, sandarkan harapan dan keinginan kita kepada Allah sehingga ketika harapan atau keinginan kita tidak tercapai kita akan mengatakan bahwa Allah lebih tau apa yang terbaik buat kita. Yakinlah bahwa Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan, Allah lebih tau kapan waktu yang lebih tepat dan bagaimana caranya, hanya Allah yang tau.

 

Jika kita selalu bersandar pada Allah, kita yakin bahwa Allah yang memegang keputusan maka tidak pernah ada kata kecewa dan putusa asa dalam hidup ini. Kita akan senantiasa berpikir positif  akan apapun yang terjadi, dengan begitu kita memiliki energi positif yang lebih banyak untuk menjalani kehidupan. Ketika rasa kecewa tidak ada, putus asa tidak ada dan rasa  marah tidak ada maka cukup sudah hidup ini sungguh akan terasa indah, cukup Allah bagi kita. Dengan Allah kesuksesan akan kita raih, kebahagian akan kita dapat, kejayaan akan kita capai dan bahkan bukan di dunia saja melainka juga di akhirat kelak.
Ketiga hal di atas merupakan beberapa diantara banyak hal yang bisa kita lakukan agar kita bisa meraih kesuksesan yang hakiki bukan kesuksesan yang hanya nampak dari luar sedangkan di dalamnya gelisah. Dengan sinyal iman kita tersambung dengan Allah, Rasa kasih sayang terbangun dengan baik dengan Allah, RasulNya dan sesama manusia serta kita selalu bersandar kepada Allah maka kesuksesan hakiki akan kita dapatkan, kebahagian yang tidak hanya nampak dari luar melainkan juga kesejukan dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *