Mengkaji Kembali Asal Mula Suku Mante Menetap Di Aceh Besar, Adakah Bukti Ilmiah ?

Posted on: Maret 29, 2017, by :

 

Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah karena Aceh dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara, selain itu Aceh juga merupakan salah satu wilayah yang menerapkan syariat islam secara ketat di Indonesia.
Aceh terletak paling Barat Indonesia yaitu di ujung utara pulau Sumatera. Letaknya dekat dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India dan terpisahkan oleh Laut Andaman. Aceh berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan. (sumber: wikipedia)
Sejarah telah menjadi saksi bahwa Aceh merupakan daerah yang sangat berperen penting dalam proses kemerdekaan Indonesia. Sejarah juga mengatakan bahwa Aceh merupakan wilayah yang sangat stategis dalam aktifitas perdagangan dunia. Berposisi diujung utara Pulau Sumatera membuat Aceh sebagai tempat persinggahan para pedagang gujarat dan tiongkok yang melewati selat malaka. Kondisi inilah yang membuat Aceh pada masa lalu mencapai puncak kejayaanya sebagai daerah yang kaya raya. Selain itu, ditempat inilah pernah berdiri kerajaan islam pertama di Indonesia yang pernah menguasai sebagian besar wilayah nusantara.aanya sebagai daerah yang kaya raya. Selain itu, ditempat inilah pernah berdiri kerajaan islam pertama di Indonesia yang pernah menguasai sebagian besar wilayah nusantara.
Aktifitas perdagangan antar negara pada masa itu membuat penduduk asli Aceh banyak melangsungkan pernikahan dengan para pendatang baik dari gujarat maupun tiongkok. Hal ini membuat beragamnya suku-suku yang mendiami Aceh saat ini.
Sejarah yang panjang telah membuat Aceh menjadi seperti sekarang ini, dimana sangat sulit untuk mengetahui secara pasti berapa jumlah suku yang ada di Provinsi Aceh. Kita banyak mendengar kabar, cerita dari orang-orang tua kita yang mengatakan bahwa Aceh terdiri dari banyak suku sehingga menghasilkan banyak pula ragam bahasa. Namun, cerita itu selalu berakhir tanpa kesimpulan pasti terkait berapa jumlah suku di Aceh dan suku apa saja itu. Perkembangan semakin canggih sehingga kita bisa mendapatkan sebuah data yang secara ilmu pengetahuan bisa kita jadikan referensi resmi dalam berpendapat. Data tersebut adalah data dari Sensus Penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010,  dimana data tersebut mengungkapkan tentang keberagaman suku-suku yang mendiami Aceh. Paling tidak terdapat sekitar 50 suku yang mendiami Aceh. Suku-suku yang mendiami Aceh saat ini diantaranya adalah Aceh, Gayo, Gayo Lut, Gayo Lues, Gayo Serbe Jadi, Alas, Jawa, Aneuk Jamee, Simelu, Singkil, Tamiang, Minang Kabau, Batak Pak-pak, Batak Toba, Batak Mandailing dan lain-lain sebagainya.
Di antara banyaknya suku yang sering kita tau dan kita kenal tidak terdapat nama suku Mante yang di tahun 2017 ini menjadi viral dan pembicaraan hangat di kalangan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Aceh. Kehebohan tentang Suku Mante dimulai dari sebuah video yang di unggah di media sosial YouTobe, dimana di dalam video tersebut terlihat sebuah penampakan manusia kecil yang disebut-sebut sebagai orang dari Suku Mante, yang terekam kamera pemotor trail di pedalaman Aceh. Video yang berdurasi kurang lebih 2 menit tersebut kemudian tersebar dengan sangat cepat ke berbagi media sosial yang kemudian membuat para penikmat dunia maya merasa penasaran untuk mencari kebenaran tentang Suku Mante tersebut.
Sebuah halaman Indonesia.go.id, yang dikelola oleh Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian Komunikasi dan Informatika, menyebutkan Suku Mante diduga berkerabat dekat dengan Suku Batak, Gayo dan Alas. dimana Suku Mante mulanya mendiami wilayah Aceh Besar dan kemudian menyebar ke tempat-tempat lainnya.
Suku Mante (Gayo: Manti) atau juga dieja Mantir adalah salah-satu etnik terawal yang disebut-sebut dalam legenda rakyat pernah mendiami Aceh. Suku ini, bersama suku-suku asli lainnya seperti Lanun, Sakai, Jakun, Senoi, dan Semang, merupakan etnik-etnik pembentuk Suku Aceh yang ada sekarang. Suku Mante diperkirakan termasuk dalam rumpun bangsa Melayu Proto, awalnya menetap di wilayah sekitar Aceh Besar, dan tinggal di pedalaman hutan. Suku-suku asli tersebut diperkirakan beremigrasi ke Aceh melalui Semenanjung Melayu. Dalam legenda Aceh, Suku Mante dan Suku Batak disebut-sebut sebagai cikal-bakal dari Kawom Lhèë Reutōïh (suku tiga ratus), yang merupakan salah satu kelompok penduduk asli Aceh. Saat ini Suku Mante sudah punah, atau lenyap karena sudah bercampur dengan suku bangsa pendatang-pendatang lainnya yang datang kemudian. (sumber ; wikipedia)
Setelah mencari berbagai referensi terkait kehebohan Suku Mante, kami menemukan sebuah tulisan di Harian Kompas Hal 1, 18 Desember 1987 pernah menerbitkan berita keberadaan suku Mante di daerah pedalaman Aceh. isi beritanya seperti berikut;
Banda Aceh, Kompas
Mante, kelompok masyarakat, yang berkelana di hutan-hutan pegunungan Aceh Tenggara dan Aceh Tengah, kini ditemukan kembali. Warga masyarakat suku terasing yang selama ini sangat terkenal dalam kisah-kisah lama Aceh serta kebudayaan tutur setempat, nampaknya masih bertahan di kawasan hutan belukar sampai sekarang. Dengan demikian, suku bangsa Proto Melayu yang sudah menghuni wilayah Indonesia sebelum kedatangan suku-suku Melayu masyarakat kita sekarang ini, sisa-sisanya bertahan melewati pasangsurut zaman di hutan-hutan Aceh.
 
“Semula saya masih agak ragu, apa mereka benar-benar orang Mante…’,, kata Gusnar Effendy (72), seorang pawang hutan. la menambahkan; “…maka, saya tak berani mengungkapkannya.”  Te­tapi setelah ia beberapa kali berjumpa dengan  rombongan suku tersebut, ia semakin yakin bahwa keberadaan suku yang pernah “hilang” ini benar-benar bukan khayalan.
“Jika  betul ditemukan keber­adaan masyarakat Mante, itu sebuah berita besar. Semua pihak harus ikut turun tangan,” kata Prof  Dr Ibrahim Alfian, sejarawan, penulis buku “Perang di Jalan Allah” yang kini menjabat Dekan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Nama panggilan
          Istilah Mante dikenalkan secara luas oleh Dr Snouck Hurgronje dalam karya terkenalnya De Atjehers. Mengutip keterangan yang diperolehnya dari para informannya, ia melukiskan orang Mante orang Mantran tinggal di wilayah perbukitan Mukim XXII. Malahan konon, pada pertengahan-abad XVII, ada sepasang Mante laki-perempuan ditangkap dan dipersembahkan kepada Sultan Aceh. “Mereka tak mau berbicara, tak mau makan-minum yang disodorkan, hingga akhirnya mati…,” begitu Snouck Hurgronje memberikan ilustrasi.
Tetapi lewat buku yang sama ia juga menyatakan, panggilan mante akhirnya juga diberlakukan untuk menyebut mereka yang bertingkah kebodoh-bodohan dan berlaku kekanak-kanakan. Hur­gronje sendiri memang mengaku belum pernah bertemu muka de­ngan kelompok termaksud.  Kata Prof Ibrahim Alfian, “Da­lam Kamus Gayo-Belanda susunan Dr GAJ Hazen, terbit tahun 1907, istilah mante digunakan untuk sekelompok masyarakat liar yang tinggal di hutan. Sementara pada Kamus Gayo-Indonesia tulisan antropolog Nelalatoa, pang­gilan mante juga disebutkan untuk memberi nama kelompok su­ku terasing setempat.” Berdasar kenyataan ini, sejarawan asal Aceh tadi menyebutkan, “…kalau memang suku tadi ditemukan kembali, penelitian ilmiah perlu dilakukan secara tuntas di samping  upaya Departemen Sosial yang mempunyai tugas antara lain, membina suku-suku terasing.
Berkelompok
       “Kalau berbohong, …silakan saya digantung,” tutur Gusnar Ef­fendy meyakinkan. Pawang hutan berusia lanjut tetapi tetap tegar ini memang sering kali menjelajah hutan dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan  tadi, ia beberapa kali bertemu dengan kelom­pok masyarakat Mante. “Mereka tinggal berkelompok, sekitar 60-an orang, besar- kecil-laki perempuan. Sayang, begitu bertemu, mereka langsung melarikan diri menghindar.”
          Masyarakat Mante yang ditemukannya tadi hidup di belantara pedalaman Lokop, Kabupaten Aceh Timur. Kecuali itu Gusnar juga pernah berjumpa dengan mereka di hutan-hutan Oneng, Pintu Rimba, Rikit Gaib di Kabu­paten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. “Umumnya, tinggal di gua-gua celah gunung. Kalau siang hari berada di alur-alur sungai dalam  lembah.” Gua yang dijadikan tempat tinggal kelom­pok terasing ini dinamakah Gua Beye, Jambur Atang , Jambur Ketibung, Jambur Ratu dan Jambur Simpang.
Sebuah tulisan juga kami temukan dalam sebuah surat kabar tentang cerita seorang warga Aceh tentang keberadaan Suku Mante.
cerita suku mente
Jika sebagian masyarakat di Aceh Besar sempat menyebutkan bahwa keberadaan suku ada pedalaman hutan, hal ini mendasar dari apa yang pernah dituliskan oleh Snouck dalam buku “De Atjehers”, walaupun dia tidak pernah melihat sendiri melainkan hanya dari omongan warga.
Dalam sebuah buku “Aceh Sepanjang Abad” karangan dari Mohammad Said juga pernah menyebutkan suku Mante ini sebangsa keturunan dari orang-orang asli di Malaysia.

Hal tersebut diperkuat dari catatan James A. Matisoft (Silakan baca tulisannya) yang diketahui bahwa orang asli di Malaysia telah bermigrasi setidaknya sejak 6.000 tahun yang lalu. Sementara, maksud dari orang asli ini menurut Paul Sidewell dalam sebuah tulisannya termasuk dalam bangsa Mon-Khmer. Dan telah terbukti sekarang bahwa banyak kata-kata bahasa Aceh yang termasuk dalam rumpun bahasa Mon-Khmer.

Dari berbagai sumber yang kita dapatkan baik dari cerita mulut ke mulut, tulisan di media sosial dan pendapat para sejarawan tentang keberadaan Suku Mante tidak membuat semua masyarakat Aceh menganggap itu sebagai sebuah cerita valid. Pro kontra pun terjadi dimana ada yang berpendapat Suku Mante benar adanya namun sekarang tidak ada lagi di Aceh. Salah satu alasannya, Suku Mante hidup di belantara hutan yang belum terjamah oleh manusia. Faktanya, hampir seluruh belantara di Aceh sudah dijamah manusia.

Apapun cerita dan pendapat kita terhadap benar adanya Suku Mante yang dikabarkan pernah menetap di wilayah Aceh Besar atau wilayah hutan Aceh lainnya, rasanya tidak puas jika belum ada sebuah penelitian ilmiah. Walaupun banyaknya cerita warga yang katanya melihat langsung kehidupan Suku Mante, sampai saat ini,masih belum terdapat bukti ilmiah yang kuat terhadap keberadaan Suku Mante ini.

Semoga Artikel Mengkaji Kembali Asal Mula Suku Mante ini bisa membuat kita semua berpikir bahwa ada tidaknya Suku Mante tersebut akan terus jadi pro kontra selama belum ada bukti ilmiah yang kuat. Sangat menarik jika ada mahasiswa atau dosen yang ingin meneliti tentang Suku Mante ini. dan pastinya akan kita tunggu-tunggu bukti ilmiahnya.

share this

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *