Pocut Meuligoe, Seorang Srikandi Samalanga dan Keberaniannya Melawan Belanda

Posted on: Februari 3, 2017, by :

Pocut Meuligoe merupakan salah satu diantara para srikandi Aceh yang sangat berperan penting dalam melawan penjajahan bagi bangsa Indonesia khususnya ketika masa penjajahan Belanda. Nama Pocut Meuligoe masih sangat jarang kita dengar bahkan banyak masyarakat Aceh yang masih belum tau, tidak seperti Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Mutia, Tengku Fakinah dan lainnya yang sudah sangat familiar bagi masyarakat Aceh. Pocut Meuligoe yang pada saat itu sering dipanggil dengan nama Pocut Maligai adalah seorang remaja putri sekaligus pemimpin wanita pewaris tahta Kerajaan Samalanga (Aceh). Ketegasannya yang paling diingat adalah ketika ia mewajibkan kepada setiap pria saat itu untuk berani turun ke medan perperangan melawan Belanda bahkan ia tidak segan untuk bertindak tegas terhadap pria yang tidak mau melaksanakan kewajibannya, salah satunya adalah turun tangan melawan Belanda. Keberaniaannya saat itu dinilai berhasil mempertahankan wilayah Samalanga ketika Belanda hendak memasuki Samalanga.

Mempertahankan wilayah bukanlah sebuah hal yang mudah namun, keberanian dan ketegasan Pocut Meuligoe menjadi modal besar sehingga berhasil mempertahankan wilayah Samalanga dari serangan Belanda selama beberapa tahun walaupun harus berperang dengan tentara Belanda. Jenderal Van der Heijiden merupakan tentara Belanda yang pernah kehilangan satu matanya karena mata kirinya tertembak dalam perperangan melawan pasukan yang dipimpin oleh Pocut Meuligoe saat berusaha merebut wilayah Samalanga.

Keberanian Pocut Meuligoe tidak hanya diakui oleh masyarakat Aceh melainkan pihak musuh juga mengakui bahwa wanita ini memang bak singa yang selalu siap memangsa siapa saja yang mengganggu wilayahnya. Salah seorang kapten Belanda bernama Schumacher menuliskan bahwa saat itu sekitar tahun 1876, Belanda telah berhasil menguasai banyak wilayah di Indonesia namun, ketika Belanda hendak memasuki dan berusaha sangat keras untuk memasuki wilayah Samalanga dan memaksakan untuk mengakui pemerintahan Belanda, hal yang berbeda mereka dapatkan dimana wilayah lain dengan mudah mereka taklukan tapi tidak dengan wilayah Samalanga. Samalanga yang memiliki sosok wanita pemberani malah menjawab keinginan Belanda dengan menembaki kapal-kapal Belanda, tidak hanya itu, piha Samalangan juga berani untuk merampok tentara Belanda. Sosok wanita ini tidak lain adalah Pocut Meuligoe, yang mana saat itu ia sangat berani menunjukan kebenciannya terhadap pihak Belanda. Schumacher juga menyebutkan dalam tulisannya bahwa peran Pocut tidak hanya di wilayah Samalanga saja, Pocut sering mengirim bantuan baik berupa dana, logistic dan senjata ke wilayah lainnya di Aceh seperti ke wilayah Aceh Besar untuk membantu pasukan pasukan Aceh di wilayah tersebut. Wilayah Samalanga saat itu dikenal dengan wilayah yang memiliki perkembangan perdagangan ekspor sangat baik, sehingga Samalanga bisa memberikan kontribusi finansial yang besar bagi perjuangan Aceh saat itu.

Diantara pertempuran Belanda melawan Pocut Meuligoe adalah saat Gubernur Belanda saat itu Karel Van Der Haijden merangcang serangan dasyat ke Samalanga dengan menyiapkan berbagai kapal perang Belanda seperti Matelan Kuis, Amboina, Citadel Van Antwerpen, Sambas dan Watergeus dan juga batalionnya. Dimana saat itu JDJ Van Der Hegge Spies sebagai pemimpin pasukan darat. Tentara Belanda telah mempersiapkan serangan  ke wilayah Samalanga. Namun, tidak diduga oleh pasukan Belanda dimana saat pasukan Belanda mendarat di wilayah Samalanga, pasukan Aceh rupanya telah siap menanti kedatangan tentara Belanda.

Pasukan Samalanga sudah menunggu di Kiran dan Kuala Tambora yang merupakan sebuah hutan dan telah dipasang ranjau. Karena kesiapan pasukan Aceh yang tidak diduga oleh tentara Belanda sehingga 1 batalyon tentara Belanda sibantai dengan sangat mudah oleh pasukan Aceh yang saat itu hanya berjumlah 40 orang. Namun, Belanda tidak berhentik begitu saja, Tak lama kemudian Belanda di untungkan dengan datangnya bala bantuan yang membuat pasukan Aceh memutuskan untuk mundur sambil mengumpulkan tenaga kembali. Tepat di kawasan Pengit Tunong perang sengit terjadi dimana tentara Belanda sangat tertekan hal ini terlihat ketika tentara mereka banyak yang lari dan membuang senjata begitu saja.

Perang ini bisa dikatakan dimenangkan oleh pasukan Aceh dimana saat itu Pocut Meuligoe di damping oleh seorang Ulama bernama Haji Ahmad. Belanda berhasil menawan Haji Ahmad dimana sebelumnya Haji Ahmad berhasil memancung kepala tentara Belanda yaitu Letnan Ajudan Richello. Pocut Meuligoe berusaha untuk melakukan mediasi dengan pihak Belanda dimana Pocut meminta Haji Ahmad untuk dibebaskan. Namun, perundingannya tidak berhasil sehingga Haji Ahmad meninggal saat itu.

Pertempuran berikutnya adalah ketika Jenderal Van Der Haijden menyusun strategi untuk menaklukkan wilayah Samalanga yang saat itu dikenal memiliki benteng pertahanan yang sangat kuat. Samalanga telah dipasangi benteng denganranjau dan berbagai jenis perangkap lainnya. Karena mengetahui kekuatan pasukan Aceh, pihak Belanda menyiapkan tiga batalyon pasukan darat dan mariner yang di pimpin oleh Kapten Kauffman, Pasukan ini juga dibekali dengan pelontar meriam dan 900 lebih meriam. Pada pertempuran ini Jenderal Van Der Haijden mati karena tertembak satu mata sebelah kirinya sehingga ia digelar oleh orang Aceh sebagai Jenderal Mata Satu. Selain itu penyerangan Belanda ke Samalanga kali ini harus dibayar mahal, karena di penyerangan inilah beberapa pimpinan pasukan Belanda seperti May. Dompselar dan LetKol. Maijar serta ratusan prajurit Belanda terluka parah,

Belanda tidak mau mudah menyerah untuk menyerang wilayah Samalanga, mereka terus berusaha untuk terus menyerang dan berharap pasukan Aceh saat itu mau mengakui pemerintahan Belanda. Namun, kegagalan demi kegagalan dialami oleh pihak Belanda sehingga pada tanggal 17 September 1877 terjadi perundingan antara kedua belah pihak. Kerajaan Samalanga saat itu diwakili oleh Teuku Cik Bugis yang merupakan kakak Pocut Meuligoe. Hasil dari perundingan tersebut menyebutkan bahwa Belanda diperbolehkan mengibarkan bendera di wilayah Samalanga tetapi tidak berkuasa atas wilayah tersebut, sementara kegiatan perdagangan ekspor-impor tetap berjalan tanpa ada gangguan dan Benteng Batee Iliek tidak boleh diganggu gugat.

Belanda memang penjajah yang tidak tau malu dimana mereka setelah perundingan itu disepakati mereka masih merasa belum puas. Belanda masih berusaha untuk merebut Samalanga, saat itu tepat pada tanggal 30 Juni 1880 Belanda melalui 65 prajurit belanda di bawah pimpinan Let. Van Woortman secara diam-diam memasuki kampung dan sesampainya di Cot Merak, mereka dikepung penduduk setempat dan pertempuran sengit pun terjadi. Prajurit Belanda itu terdesak dan lari menyelamatkan diri kembali ke markas.

Peristiwa di Cot Merak membuat Belanda marah besar dan merasa sangat tersinggung sehingga Van der Heijden melanggar perjanjian yang telah disepakati bersama. Ia mengirim satu ekspedisi yang terdiri dari 32 pegai dan 1200 prajurit dengan alat tempur lengkap di bawah pimpinan Mayor Schmilau dan Mayor Van Steenvelt. Turut bersama pasukan Belanda itu adalah Panglima Tibang, bekas orang kepercayaan Sultan dan Teuku Nyak Lehman sebagai juru bahasa dan penunjuk jalan.

Belanda sempat berusaha membujuk para tokoh Samalanga untuk kembali berunding, namun para tokoh Samalanga seperti Teuku Cik Bugis, Pocut Meuligoe, Teuku Bantara Cut (keponakan Pocut Meuligoe) dana beberapa tokoh Samalanga lainnya sudah mengetahui rencana busuk Belanda. Pada tanggal 14 Juli 1880 pasukan Aceh melihat tentara Belanda kembali membawa pasukan mereka merapat di Kuala Samalanga sehingga pasukan Samalanga bergegas untuk bersiap-siap untuk menghadang kedatangan Belanda di Batee Iliek. Sehari setelah itu yaitu tanggal 15 Juli apa yang diprasangka oleh tokoh Samalanga ternyata benar dimana tentara Belanda masih sangat nafsu untuk menguasai wilayah Samalanga. Belanda menyerang Batee Iliek sehingga terjadi perang sengit dan banyak korban yang dialami oleh kedua belah pihak.

Dalam tulisannya Schumacher mencatat bahwa  saat itu Belanda kembali gagal menembus pertahanan Benteng Batee Iliek yang di siapkan oleh pasukan Samalanga. Tidak hanya itu, pasukan induk Belanda juga diserang dengan kelewang dari belakang bukit. Schumacher juga menuliskan usaha pasukan Belanda untuk menaklukkan Samalanga, dimana Belanda terus maju dan menyerang tapi setiap kali mereka terpaksa mundur meskipun bersenjata lengkap. Sehingga pada akhirnya setelah 30 tahun gagal menaklukkan wilayah Samalanga, pada tahun 1904, dikerahkan 900 prajurit bersenjata lengkap ditambah dengan pasukan meriam. Usahanya kali ini mengakhiri perlawanan pejuang Samalanga setelah puluhan tahun melawan Belanda.

Penulis belum menemukan bagaimana akhir dari perjuangan Belanda menyerang wilayah Samalanga dan perjuangan serta keberanian Pocut Meuligoe dalam mempertahankan wilayah tercintanya Aceh khususnya wilayah Samalanga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *