GUS DUR, SANG TOKOH “BHINNEKA”

Posted on: Februari 20, 2017, by :
Sebagai seorang rakyat yang mencintai bangsa ini dengan penuh semangat nasionalis kita tidak boleh lupa terhadap semangat para pejuang bangsa yang rela mengobarkan jiwa mereka untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada akhirnya dengan semangat tak gentar mereka mampu merebut kemerdekaan dan mempersatukan Indonesia di bawah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya walaupun berbeda-beda namun tetap satu juwa dimana sering kita pahami walaupun kita bangsa Indonesia terdiri dari berbagi suku, bermacam ras dan bahasa serta memiliki ragam adat istiadat, Kita tetap bangsa Indonesia yang memiliki bangsa satu, Bangsa Indonesia. Semboyan itu harus terus kita jaga agar kelangsungan persatuan bangsa Indonesia bisa terus terjaga. Salah satu tokoh yang sangat fenomenal dalam mempersatukan keberagaman Indonesia dan terus menyeru rakyat Indonesia untuk bisa hidup rukun dalam keberagaman adalah Gus Dur.
“Bhinneka Tunggal Ika” merupakan moto atau semboyan Bangsa Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Diterjemahkan per kata, kata bhinneka berarti “beraneka ragam” atau berbeda-beda. Frasa tersebut  berasal dari buku atau kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular / Empu Tantular. Secara mendalam Bhineka Tunggal Ika memiliki makna walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, kesenian,adat, bahasa, dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air. Dipersatukan dengan bendera, lagu kebangsaan, mata uang, Bahasa dan lain-lain yang sama. Kata-kata Bhinneka Tunggal Ika juga terdapat pada lambang negara Republik Indonesia yaitu Burung Garuda Pancasila. Di kaki Burung Garuda Pancasila mencengkram sebuah pita yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Kata-kata tersebut dapat pula diartikan :Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Makna Bhineka Tunggal Ika dalam Persatuan Indonesia Sebagaimana dijelaskan dimuka bahwa walaupun bangsaIndonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang memiliki kebudayaan danadat-istiadat yang beraneka ragam namun keseluruhannya merupakan suatu persatuan. Penjelmaan persatuan bangsa dan wilayah negara Indonesia tersebutdisimpulkan dalam PP. No. 66 tahun 1951, 17 Oktober diundangkan tanggal 28 Nopember 1951, dan termuat dalam Lembaran Negara No. II tahun 1951.
Makna Bhineka Tunggal Ika yaitu meskipun bangsa dan negara Indonesia terdiri atas beraneka ragam suku bangsayang memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang bermacam-macam serta beranekaragam kepulauan wilayah negara Indonesia namun keseluruhannya itu merupakansuatu persatuan yaitu bangsa dan negara Indonesia.
Keanekaragaman tersebut bukanlah merupakan perbedaan yang bertentangan namun justru keanekaragaman itu bersatu dalam satu sintesa yang pada gilirannya justru memperkaya sifat dan makna persatuan bangsa dan negara Indonesia. Dalam praktek tumbuh dan berkembangnya persatuan suatu bangsa (nasionalisme) terdapat dua aspek kekuasaan yang mempengaruhi yaitu kekuasaan pisik (lahir), atau disebut juga kekuasan materialyang berupa kekerasan, paksaan dan kekuasaan idealis (batin) yang berupa nafsu psikis, ide-ide dan kepercayaan-kepercayaan.
Sebagai mana kita ketahui bahwa “Bhinneka Tunggal Ika” adalah semboyan bangsa Indonesia, maka sangat penting untuk terus menjaga dan menerapkan makna dan nilai semboyan tersebut dalam kehidupan bernegara. Salah satu tokoh negarawan yang selalu mengingatkan kita untuk terus hidup damai dalam keberagaman adalah KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur, Beliau Juga merupakan presiden Indonesia Ke-4 yang sangat berperan dalam demokrasi Indonesia dan tentunya juga seorang mantan Ketua Umum PBNU yang fenomenal.
Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifudin saat menghadiri Haul ke-6 Gus Dur di Komplek Al-Munawwaroh, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (26/12/2015) malam pernah mengatakan setidaknya ada tiga jasa besar Gus Dur bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama, Gus Dur mampu mengangkat pesantren sebagai entitas tersendiri. Di tahun 70-an Gus Dur mampu mengangkat dunia pesantren dimana menurut beliau pesantren bukan sekadar institusi tapi sebuah komunitas tersendiri yang memiliki nilai-nilai khas Indonesia. Kedua, Gus Dur mampu mendamaikan hubungan Islam dengan Pancasila. Dalam artian Gus Dur mampu memadukan umat Islam untuk bisa menerima pancasila tanpa ada setetes pun darah yang tumpah. Ketiga Gus Dur berhasil membuka pandangan bahwa kemajemukan adalah sebuah realitas di Indonesia. Oleh Karena itu, Bicara keberagaman dan pluralitas kita tak bisa pisahkan dengan Gus Dur Karena selain ketiga jasa besar itu, Gus Dur juga membawa pemahaman islam yang inklusif bukan ekslusif, Beliau juga mengatakan bahwa islam memanusiakan manusia.
 
KH. ABDURRAHMAN WAHID
Biografi Singkat  KH. Abdurrahman Wahid
Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau lebihdikenal sebagai Gus Dur Lahir di Jombang, Jawa Timur pada 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Dia adalah putra pertama dari emam bersaudara dari keluarga yang sangat terhormai dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdatul Ulama ( NU ).
Sementara kakek dari pihak ibu, K.H Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajar kelas perempuan.. Ayah Gus Dur terlibat dalam Gerakan Nasional dan menjadi Menteri Agama Pada tahun 1949. Pada saat ayahnya menjadi Mentri Agama Gus Dur ikut hijrah ke Jakarta dan Masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Pertiwi. Pendidikannya kemudian berlanjut menuju ke jenjang sekolah menengah pertama pada tahun 1954 dan Gusdur juga pernah tidak naik kelas pada waktu SMP. Tetapi bukan masalah intelektualnya. Ibunya kemudian mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya.
Pada tahun 1957 Gus Dur menyelesaikan jenjang SMPnya kemudian dia pindah ke Magelang untuk belajar di pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebaga murid berbakat, dan menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun yang seharusnya di tempuh selama empat tahun.
Pada 1959, Gus Dur pindah ke pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapat pekerjaan pertama sebagai guru sekaligus kepala madrasah. Pada 1963 Gus Dur mendapat beasiswa dari Deperteman Agama untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Namun tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya. Gus Dur kemudian belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, namun pada akhirnya Gus Dur bisa menyelesaikan pendidikan Di Universitas Baghdad pada tahun 1970.
Kemudian Gus Dur pergi ke Belanda meneruskan Pendidikannya, guna belajar di Universitas Leiden. Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971. Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yang terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan social demokrat.
Pada Musyawarah Nasional 19834, Gus Dur didaulat sebagai Ketua Umum NU, selama masa jabatan pertamanya Gus Dur Fokus dalam mereformasi system pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas pesantren sehingga dapat melindungi sekolah secular.
Pada 20 Oktober 1999, MPR bersidang dan memilih Presiden Baru, kemudian Gus Dur terpilih menjadi Presiden Indonesia Ke 4. Dan akhirnya pada tanggal 30 Desember 2009, Gus Dur menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit komplikasi dan dimakamkan di Jombang.
Biodata
Nama Lengkap : KH. Abdurrahman Wahid
Tempat / Tanggal Lahir : Jombang, 04 Agustus 1940
Nama Ayah : KH. A. Wahid Hasyim
Nama Ibu : Ny. Hj. Sholehah
Nama Istri : Sinta Nuriyah
Anak Kandung :
– Alissa Qotrunnada
– Zannuba Ariffah Chafsoh
– Anita Hayatunnufus
– Inayah Wulandari
Pendidikan
– 1957-1959 Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah
– 1959-1963 Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur
– 1964-1966 Al Azhar University, Cairo, Mesir, Fakultas Syari’ah (Kulliyah al-Syari’ah)
– 1966-1970 Universitas Baghdad, Irak, Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab
Karir
– 1972-1974 Fakultas Ushuludin Universitas Hasyim Ashari, Jombang, sebagai Dekan dan Dosen
– 1974-1980 Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng
– 1980-1984 Katib Awwal PBNU
– 1984-2000 Ketua Dewan Tanfidz PBNU
– 1987-1992 Ketua Majelis Ulama Indonesia
– 1989-1993 Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
– 1998 Partai Kebangkitan Bangsa, Indonesia, Ketua Dewan Syura DPP PKB
– 1999-2001 Presiden Republik Indonesia
– 2000 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Mustasyar
– 2002 Rektor Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Indonesia
– 2004 Pendiri The WAHID Institute, Indonesia
Penghargaan
– 2010 Lifetime Achievement Award dalam Liputan 6 Awards 2010
– 2010 Bapak Ombudsman Indonesia oleh Ombudsman RI
– 2010 Tokoh Pendidikan oleh Ikatan Pelajar Nadhlatul Ulama (IPNU)
– 2010 Mahendradatta Award 2010 oleh Universitas Mahendradatta, Denpasar, Bali
– 2010 Ketua Dewan Syuro Akbar PKB oleh PKB Yenny Wahid
– 2010 Bintang Mahaguru oleh DPP PKB Muhaimin Iskandar
– 2008 Penghargaan sebagai tokoh pluralisme oleh Simon Wiesenthal Center
– 2006 Tasrif Award oleh Aliansi Jurnanlis Independen (AJI)
– 2004 Didaulat sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang
– 2004 Anugrah Mpu Peradah, DPP Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Jakarta, Indonesia
– 2004 The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia
– 2003 Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat
– 2003 World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan
– 2003 Dare to Fail Award , Billi PS Lim, penulis buku paling laris “Dare to Fail”, Kuala Lumpur, Malaysia
– 2002Pin Emas NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Indonesia.
– 2002 Gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
– 2001 Public Service Award, Universitas Columbia , New York , Amerika Serikat
– 2000 Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat
– 2000 Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International
– 1998 Man of The Year, Majalah REM, Indonesia
– 1993 Magsaysay Award, Manila , Filipina
– 1991 Islamic Missionary Award , Pemerintah Mesir
– 1990 Tokoh 1990, Majalah Editor, Indonesia
Doktor Kehormatan
– Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000)
– Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000
– Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis (2000)
– Doktor Kehormatan dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (2000)
– Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda (2000)
– Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India (2000)
– Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (2002)
– Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel (2003)
– Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (2003)
– Doktor Kehormatan dari Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (2003)
Kiprah KH. Abdurrahman Wahid
 
1. Gus Dur, Bapak Pluralisme
Gus Dur merupakan sosok yang menjadi icon Indonesia berdamai telah mendunia dan terkenal ke segala penjuru, beliau tidak berfikir bagaimana layaknya sebagai orang Indonesia namun malah berfikir bagaimana umumnya pemikiran manusia biasa berkembang sesuai dengan kodrat kemanusiaannya, inilah yang sampai sekarang menjadi pembicaraan orang banyak betapa Gus Dur begitu dicintai dan dielu-elukan sedemikian rupa berkat pluralisme dan perdamaian yang beliau gagas baik dalam hal pemikiran maupun praktis berkehidupan sampai beliau menghembuskan nafas pada akhir tahun 2009 tepatnya hari kamis tanggal 30 Desember 2009.
Gus Dur tidak hanya seorang tokoh agama yang pluralis, tapi dia juga pemikir yang jenius, dan brilian. Tidak jarang pemikirannya mendahului zamannya. Konsep pluralisme yang dimiliki Gus Dur, tidak hanya menjadi bagian penting dalam menjalin toleransi antar umat beragama, tapi juga menjadi bagian dari sejarah untuk menghilangkan sekat-sekat yang ada selama ini.. Gus Dur pada intinya inginkan masyarakatcIndonesiaclebih demokratis, dan lebih toleran.
Buku “Islamku, Islam Anda,  Islam Kita’  karya Gus Dur. Pluralisme dan Pembelaan adalah dua kata kunci dalam kumpulan tulisan Gus Dus ini. Tulisannya berangkat dari perspektif korban, terutama minoritas agama, gender, keyakinan, etnis, warna kulit, posisi sosial. “Tuhan tidak perlu dibela”, kata Gus Dur, tapi manusia pada umumnya justru perlu dibela. Salah satu konsekwensi dari pembelaan adalah kritik, dan terkadang terpaksa harus mengecam, jika sudah melewati ambang toleransi.
Dalam sebuah kesempatan dalam pidatonya beliau mengatakan pluralisme yang menjadi isi buku dan roh dirinya diambil dari keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) pada 1935. Muktamar memutuskan menjalankan syariat Islam tapi tidak perlu negara Islam di Indonesia. Keputusan tersebut lahir dari pemikiran kakeknya KH Hasyim Ashari dan bapaknya KH Wahid Hasyim yang melihat Indonesia sebagai negara plural. Sampai saat ini tokoh-tokoh Islam sebagian besar menolak Negara Islam. Gus Dur sangat menolak peraturan daerah berdasarkan syariah Islam yang mulai menyebar di Indonesia.
Buku ‘Islamku,  Islam Anda,  Islam Kita’ telah diminta untuk dialih bahasakan ke tujuh bahasa yaitu Jerman, Belanda, Prancis, Inggris, Jepang, Korea, dan China. Buku Gus Dur, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang telah diluncurkan merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL).Materi lengsernya Gus Dur dan lain-lain itu diambil dari salah satu judul tulisan Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Judul tulisan itu sebenarnya menggambarkan pusaran utama keseluruhan pemikiran Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Kalau dilihat mendetail, memang banyak sekali hal-hal yang dibicarakan Gus Dur, sejak soal Islam dan ketatanegaraan, sampai responnya terhadap masalah-masalah kontemporer seperti kasus Inul pada saat itu dan problem ekonomi global.
Dari Esai “Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita”, yang menjadi judul buku itu kita menyadari bahwa Islam memang beragam. Ungkapan pribadi seseorang dalam berislam mungkin berbeda atau juga bertentangan dengan apa yang saya alami. Dari situlah kita dapat melihat adanya Islam yang aku pahami secara pribadi, dan Islam yang Anda pahami menurut Anda sendiri. Namun meski beragam, kita tetap Islam, dan disitulah mulai dikatakan soal Islam kita. Jadi judul buku ini menggambarkan Islam yang warna-warni, meski Islamnya satu tapi masing-masing orang punya pemahaman berbeda-beda tentang Islam. Tidak hanya keragaman dari sisi sosiologis-antropologis yang sejak lama didengungkan Gus Dur.
Kita tidak bisa mengelak bahwa di dalam soal doktrin, dalam tafsir keagamaan yang paling asasi pun kita tak mungkin bisa menunggal. Karena itu, ada Islamku, yakni Islam sebagai hasil penafsiran yang bersifat personal-individual dari seseorang, ada Islam Anda yang berdasarkan penafsiran Anda dan juga Islam kita, yang menjadi benang merah dari Islamku dan Islam Anda. Menurut Gus Dur, yang dinamakan Islam kita itu adalah prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang universal. Gus Dur sering mengutip al-Ghazali soal 5 prinsip dasar ajaran Islam. Pertama adalah soal kebebasan beragama.
Gus Dur adalah orang kampung yang saya kira sangat konsisten melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok minoritas. Sebab minoritas agama, ras, dan sebagainya itu, merupakan bagian dari perwujudan tafsir atau pemahaman orang terhadap Islam. Menurut Gus Dur, mereka itu tidak bisa dihancurkan. Di samping kebebasan beragama, kebebasan berfikir dan aspek-aspek kebebasan lain juga terus-menerus didengungkan Gus Dur. Bagi saya, Gus Dur telah memberi injeksi moral agama ke dalam isu-isu yang dianggap bersifat profan sekalipun. Dia bicara HAM, demokrasi, pluralisme, dan sebagainya. yang perlu dari buku ini bukan soal baru atau tidaknya, tapi justru kesaksian akan konsistensi Gus Dur dalam pikiran-pikiran yang sejak lama ia usung. Saya belum pernah melihat pemikirIndonesiayang begitu konsisten membela prinsip-prinsip yang ia pegang teguh sebagaimana Gus Dur.
Buah pikirannya bukan hanya diwacanakan dalam bentuk tulisan lalu diseminarkan, tapi juga diwujudkannya dengan aksi. Lihatnya bagaimana kukuhnya Gus Dur berpegang pada prinsip anti-diskriminasi. Bukan hanya menulis, dia benar-benar memperjuangkan prinsip itu dalam aksi nyata. Juga konsistensinya dalam pembelaan terhadap pluralitas. Dia tetap melakukan itu meski dianggap kerja yang tidak populer dan dipandang kontroversial. Tapi dia tetap lakukan pembelaan. Dalam soal pembelaan atas pluralitas, saya tidak pernah melihat orang sekonsisten Gus Dur. Aktivismenya juga merupakan cerminan dari apa yang ia pikirkan. pertama-tama melihat Gus Dur sebagai sosok santri, dan santri itu dididik berpikir secara plural oleh tradisi fikih. Sebab, tak mungkin ada pandangan yang tunggal di dalam fikih. Karena itu, orang yang ahli fikih seperti Gus Dur, tak mungkin menganut satu konsep kebenaran absolut. Itulah  yang pertama kali mendidik Gus Dur untuk tidak memutlakkan pandangannya sendiri.
 
2. Gus Dur, Bapak Perdamaian dan Toleransi
Gus Dur dikenal sebagao Bapak Perdamaian dan Toleransi karena berbagai kebijakannya, Kebijakan Gus Dur untuk mengganti nama Provinsi Irian Jaya menjadi Provinsi Papua pada tahun 2000 dan menyebut orang Irian sebagai orang Papua, bukan hanya memberi izin, melainkan juga memberi bantuan dana bagi tokoh-tokoh masyarakat Papua untuk menggelar Kongres Nasional Rakyat Papua II pada Maret 2000. Kongres itu kemudian menetapkan berdirinya Presidium Dewan Papua yang dipimpin oleh dua tokoh Papua,Theys Hiyo Eluay asal Sentani dan Tom Beanal asal Pegunungan Tengah.
Tak cuma itu, Gus Dur bahkan memperbolehkan berkibarnya bendera Bintang Kejora sebagai simbol adat Papua bersama Sangsaka Merah Putih sebagai bendera negara. Bahkan lagu Hai Tanahku Papua pun boleh didendangkan setelah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kebijakan yang amat akomodatif itu menimbulkan kedamaian di tanah Papua meski hanya berusia seumur jagung. Setelah itu, pendekatan kekerasan pun muncul kembali, berupa penangkapan terhadap para aktivis Papua Merdeka yang berujung pada terbunuhnya Theys Hiyo Eluay pada dini hari 11 November 2001 saat Gus Dur tak lagi berkuasa sebagai Presiden Keempat RI (1999 Juli 2001). Meski hanya sebentar,kebijakan Gus Dur itu telah mematri nama harumnya di tanah Papua, bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia.
Bagi Gus Dur, mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tanah yang panas, Papua, bukan dengan cara-cara kekerasan militer, melainkan dengan cara-cara damai dan akomodatif. Bukan hanya kepada rakyat Papua saja Gus Dur memberi perhatian penuh. Bagi kelompok minoritas keturunan Tionghoa, Gus Dur juga memberi ruang hidup yang lebih terhormat sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Pada era Gus Dur kebudayaan Tionghoa diakui sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Tak ada lagi dikotomi di kalangan masyarakat Tionghoa di Indonesia mengenai pilihan antara mengambil pendekatan asimilasi atau integrasi seperti pada era Presiden Soekarno. Agama Konghucu juga berkembang tanpa kekangan. Kebijakan untuk menghapus surat bukti kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) bagi orang Indonesia keturunan Tionghoa juga mulai dirintis sejak era Gus Dur. Tak ada lagi sekat-sekat hukum antara pribumi dan nonpribumi. Gus Dur juga melindungi kaum minoritas yang menganut agama atau kepercayaan di luar kelompok aliran utama agama-agama besar. Bahkan tidak jarang Gus Dur mengkritik atau memaki anak-anak muda yang tidak mengikuti langkah-langkah dalam gerak reformasi dan demokratisasi politik. Ini bukan ditujukan agar anak-anak muda itu sepaham dengannya, melainkan untuk menantang mereka agar kuat dalam aliran pikiran mereka masing-masing.
Dari uraian di atas maka sangat pantas kita katakan bahwa Gus Dur adalah sang tokoh Bhinneka sosok yang sangat berperan dalam kehidupan Bangsa Indonesia.
Referensi :
http://gusdur.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *